Kontestasi Kekuasaan Di Tubuh PMII Sehat?

Hanya ingin beropini!
Perbedaan setiap proses manusia untuk menjadi manusia yg benar-benar merdeka memang banyak sekali wadahnya, salah satunya di wadah organisasi ditataran mahasiswa yakni PMII.

Ditubuh PMII memang sangat beragam latar belakang, dari situ bisa kita simpulkan banyak sekali pemikiran yang membuat organisasi itu “besar”. Setiap kampus, setiap kota/kabupaten, sampai setiap provinsi punya dinamikanya masing-masing. Entah itu dinamika eksternal maupun internal di masing masing tingkatan. Mulai dari proses perekrutan anggota yang berlomba merebut hati para calon anggota (mahasiswa baru) sampai pemilihan ketua.

Kita semua tau situasi yang seringkali menjadi permasalahan dalam dinamika memilih calon ketua entah itu RTK, Konfercab, Konkoorcab bahkan kongres adalah kita dipaksa untuk “saling bacok” dengan sesama kader yang lahir dari rahim yang sama. Padahal masih banyak persoalan yg bisa di kerjakan, entah itu persoalan kaderisasi, sosial sekitar dan isu isu lokal yang setiap daerah berbeda.

Tidak sedikit juga kader PMII yang “muak” dengan situasi untuk memihak ke salah satu calon kandidat yg akan menjadi pimpinan organisasi. Banyak juga kader yang “muak” dengan situasi seperti itu lalu “melampiaskan”nya dijalur jalur perjuangan lainnya tanpa masuk secara struktural namun masih membawa identitas yg melekat di dirinya sebagai manusia yg benar benar memegang prinsip-prinsip yang sudah di ajarkan sejak mapaba sampai jenjang kaderisasi paling tinggi di organisasi.

Pasca kontestasi memang ada yg bisa menerima, ada juga yg masih ngrundel dan di campur adukan di segala urusan di organisasi, yang menjadi “korban” kader-kader baru yg semangatnya masih menggelora.
Di sisi lain dengan situasi seperti itu ada juga nilai positifnya, salah satunya bagaimana kita mampu membaca atau memetakan situasi dan mengambil sikap yg tegas untuk memihak ke salah satu calon yg kita anggap pantas untuk memimpin sebuah roda organisasi.

Disisi lain juga yg di “anggap buruk” bagi sebagian orang yakni saling sikut lalu “menghalalkan segala cara” untuk bisa mencapai apa yg dianggap benar.

Memang setiap momentum pemilihan ketua selalu ada kalah dan menang. Seharusnya bagaimana? Itu masih menjadi PR besar kita bersama untuk mencari altenatif mengahadapi dan manjalani situasi seperti itu.
Semoga di setiap kontestasi dengan dinamikanya bisa mendewasakan setiap kader yang terlibat didalamnya dan berdampak positif untuk PMII itu sendiri. Sulun

Fulkunada kader abal-abal PMII Kota Malang
00.54 WIBMalang, 25 Mei 2022

Mungkin Anda Menyukai