Kabarjatim.id | SurabayaPerkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah menuntut berbagai lembaga pendidikan, termasuk pesantren, untuk beradaptasi dengan dinamika zaman. Di tengah arus perubahan itu, lahirlah sebuah terobosan dari kalangan pesantren yang berani menjembatani nilai-nilai keislaman dengan semangat digitalisasi dan kewirausahaan modern. Terobosan tersebut diwujudkan melalui berdirinya Pondok Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, yang diresmikan secara langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Hj. Khofifah Indar Parawansa, di Surabaya, Senin (10/11/2025) malam.

 

Peresmian ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan pesantren di Jawa Timur, sekaligus menandai lahirnya sebuah model baru dalam sistem pendidikan berbasis pesantren yang berorientasi pada dunia digital dan kewirausahaan kreatif. Pesantren ini tidak hanya mendidik santri untuk memahami ilmu agama, tetapi juga menyiapkan mereka untuk menjadi pelaku ekonomi digital yang tangguh, inovatif, dan berdaya saing tinggi di masa depan.

Founder Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, H. Helmy M Noor, dalam sambutannya menjelaskan bahwa pesantren yang ia dirikan memiliki konsep “digipreneur”, yaitu kolaborasi antara digital dan entrepreneurship. Konsep tersebut menjadi dasar utama dalam membentuk karakter dan kemampuan santri yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha berbasis digital. Ia menyampaikan bahwa pesantren ini dikelola oleh Yayasan Santri Milenial Indonesia (Yasmin), yang berkomitmen untuk melahirkan generasi santri yang mampu menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis nilai-nilai keislaman.

Lebih jauh, Helmy mengungkapkan bahwa pendirian pesantren ini bukanlah gagasan yang muncul secara tiba-tiba, melainkan buah dari perjalanan panjang dan cita-cita lama yang telah ia pendam selama puluhan tahun.

“Pesantren yang kami rintis sejak 2021 itu merupakan cita-cita lama sejak 25-an tahun lalu atas spirit yang ditanamkan almaghfurlah KH. A. Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU 2000–2010),” ujar pria yang juga Ketua LTNNU Jatim ini.

Helmy kemudian mengenang kembali pesan dan nasihat dari almaghfurlah KH. A. Hasyim Muzadi, seorang tokoh besar yang dikenal berpandangan jauh ke depan. “Kala itu, Kiai Hasyim Muzadi pernah menyampaikan agar pengetahuan tentang dunia digital ditekuni dan ditularkan kepada yang lain, khususnya kalangan santri. Bahkan, ia pernah diajak Kiai Hasyim Muzadi ke sebuah kampus di India yang memiliki studio cukup besar, yang melahirkan aktor-aktris dunia dari Bollywood,” tuturnya mengenang penuh rasa haru.

Dari pengalaman tersebut, Helmy semakin meyakini pentingnya menanamkan semangat digitalisasi di lingkungan pesantren. Ia menilai bahwa dunia digital bukanlah ancaman, melainkan peluang besar untuk mengembangkan potensi santri agar mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Karena itu, program yang dijalankan di Pesantren Digipreneur Al-Yasmin pun dirancang untuk memberikan ruang bagi santri dengan bakat dan minat yang beragam.

“Program pesantren ini memang untuk santri yang bertalenta khusus, seperti public speaking, desain grafis, musik, digital marketing, pertanian digital, konten kreator, media, advertising digital, dan keterampilan khusus bertema digital lainnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Hj. Khofifah Indar Parawansa, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap hadirnya Pesantren Digipreneur Al-Yasmin. Menurutnya, pesantren ini adalah bentuk inovasi pendidikan Islam yang visioner dan mampu menjawab tantangan zaman. Ia menilai bahwa konsep pesantren seperti ini sangat dibutuhkan untuk menyiapkan generasi santri yang adaptif terhadap perkembangan global dan siap bersaing di era digital.

“Pesantren Digipreneur Al-Yasmin merupakan pesantren anti-mainstream yang menjadi kebutuhan masa depan di era dunia yang tanpa batas. Menurutnya, kehadiran pesantren ini justru menjadi respons untuk mencetak santri yang siap menjawab tantangan zaman,” ujar Khofifah.

Khofifah menegaskan bahwa langkah pesantren ini mencerminkan bentuk respons yang sangat progresif dari dunia pesantren terhadap perubahan besar yang tengah terjadi di era modern.

“Ini respons pesantren dalam menghadapi dunia yang sarat dunia digital dan entrepreneur, sekaligus respons agama untuk perkembangan digital yang sekarang ditandai AI (artificial intelligence),” ucapnya.

Dengan peresmian Pesantren Digipreneur Al-Yasmin ini, Jawa Timur kembali menegaskan posisinya sebagai pusat inovasi pendidikan berbasis pesantren di Indonesia. Pesantren ini menjadi simbol sinergi antara tradisi dan modernitas, antara nilai-nilai keislaman dan kemajuan teknologi. Semangat yang dibawa oleh Helmy M Noor bersama Yayasan Santri Milenial Indonesia menjadi inspirasi bagi pesantren-pesantren lain di seluruh Nusantara untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.

Kini, Pesantren Digipreneur Al-Yasmin bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga laboratorium bagi lahirnya santri-santri kreatif, produktif, dan siap menghadapi era digital dengan mental tangguh serta spiritualitas yang kuat.