Kabarjatim.id | Kota Malang Di tengah meningkatnya tensi politik nasional menjelang tahun politik 2025–2026, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk tetap berada di garda depan menjaga stabilitas bangsa. Hal itu ditegaskan dalam Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PW GP Ansor Jawa Timur yang digelar di BBPPMPV BOE Blimbing, Kota Malang, pada 8–9 November 2025, dengan mengusung tema “Mengawal Aspirasi, Menjaga Kondusivitas.”

Muskerwil ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi menjadi momentum penting konsolidasi moral dan ideologis di tengah situasi bangsa yang kian kompleks. Kegiatan diawali dengan Apel Banser Parade Budaya 4 Pilar MPR RI, yang menampilkan kekuatan simbolik loyalitas Banser terhadap nilai-nilai kebangsaan. Dilanjutkan dengan pembukaan Muskerwil dan pengukuhan Satkorwil Banser Jawa Timur, serta Seminar Nasional Kepemiluan bertajuk “Masa Depan Demokrasi di Indonesia” yang menghadirkan beragam tokoh strategis.

Hadir dalam forum ini antara lain Prof. Dr. H. Bianto, M.Ag (Staf Ahli Menteri Dikdasmen), Wakil Ketua Umum PP GP Ansor Lora H. Ach. Ghufron Siradj, Mr. Isaac (Konsulat Taiwan), Wakil Wali Kota Malang H. Ali Mutohirin, dan Wali Kota Blitar H. Sauqul Muhibbin. Turut hadir pula jajaran pengurus pusat dan wilayah seperti H. Syafiq Syauqi, Lc (Kasatkornas Banser), H. Abdussalam (Wakil Bendahara Umum PP GP Ansor), H. M. Hasan Bisri (Ketua PP/Korwil Jatim), Ketua PW Ansor Jatim H. Musaffa’ Safril, serta Kasatkorwil Banser Jatim H. Reza Ali Faizin.

Dalam sambutannya, Ketua PW Ansor Jawa Timur, H. Musaffa’ Safril, menegaskan bahwa Muskerwil kali ini menjadi ajang penting untuk mempertegas posisi Ansor sebagai benteng moral dan penyalur aspirasi umat. Menurutnya, di tengah arus politik yang kian memanas, Ansor harus hadir dengan sikap jernih, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan bangsa.

“Kita bukan hanya organisasi kepemudaan, tetapi juga benteng ideologis bangsa. Ansor harus berdiri di barisan depan dalam mengawal aspirasi masyarakat, namun tetap menjaga kondusivitas agar energi perubahan tidak berubah menjadi konflik sosial,” tegas Musaffa’.

Ia menekankan bahwa menjaga kondusivitas bukan berarti mematikan kritik, melainkan memastikan bahwa kritik lahir dari cinta kepada negeri dan disalurkan dengan cara yang bermartabat.

“Menjaga kondusivitas bukan berarti pasif. Kita harus menjadi pengawal aspirasi umat agar tidak tersesat menjadi anarki. Di sinilah Ansor harus tampil — menjadi penengah yang menyejukkan, bukan penyulut perpecahan,” tambahnya.

Musaffa’ juga mengingatkan pentingnya kesiapan kader dalam menghadapi perubahan zaman, terutama di era digital yang penuh disinformasi. Ia menilai bahwa peran GP Ansor dan Banser kini meluas — tidak hanya menjaga keamanan fisik, tetapi juga menjaga ruang digital dari hoaks dan ujaran kebencian.

Sementara itu, Kasatkorwil Banser Jawa Timur, H. Reza Ali Faizin, menegaskan bahwa Banser Jatim siap siaga total menjaga keamanan sosial, terutama menjelang masa politik yang rawan provokasi dan manipulasi informasi.

“Banser tidak pernah diam ketika ada ancaman terhadap Pancasila, NKRI, dan ketenangan masyarakat. Kami bukan pasukan politik, tapi penjaga nilai. Kesiapsiagaan Banser adalah bentuk komitmen ideologis,” ujar Reza dengan tegas.

Ia menambahkan bahwa pengukuhan Satkorwil Banser Jawa Timur menjadi simbol penguatan struktur dan disiplin organisasi, agar Banser selalu hadir di setiap situasi sosial yang membutuhkan stabilitas dan rasa aman.

“Banser Jatim akan terus bergerak dengan disiplin, loyalitas, dan tanggung jawab. Kita jaga marwah organisasi dengan tindakan nyata di lapangan menjaga kondusivitas, membantu masyarakat, dan memastikan tanah air ini tetap aman bagi semua,” pungkasnya.