Kabarjatim.id | Pasuruan— Dalam rangka memperingati Haul ke-16 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Pasuruan menggelar diskusi reflektif bertajuk “Inspirasi Kepahlawanan Gus Dur” di Universitas Wiranegara (Uniwara) Kota Pasuruan. Acara ini dihadiri oleh perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Pasuruan Raya, IPNU/IPPNU Kota Pasuruan, serta kader PMII. (14/12/2025)

Dalam forum tersebut, Waladi Imadudin Kadmi menegaskan pentingnya memahami warisan kepahlawanan tiga tokoh besar Nahdlatul Ulama: Hadratus Syech KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, dan KH. Abdurrahman Wahid. Ia menyampaikan bahwa KH. Hasyim Asy’ari layak menyandang gelar pahlawan nasional karena perjuangannya dalam merebut kemerdekaan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, KH. Wahid Hasyim dikenang sebagai arsitek harmoni kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara yang inklusif dan saling merangkul. Sedangkan Gus Dur, menurut Waladi, adalah penjaga dan perawat keindonesiaan yang sejati. “Gus Dur menjaga kemajemukan, merawat kebhinekaan, membela kaum minoritas dan tertindas, serta mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Waladi menggambarkan Gus Dur sebagai tokoh yang “me-Nusantara, meng-Khatulistiwa, dan men-Cakrawala”—seorang pemikir global yang mampu mengontekstualisasikan nilai-nilai Islam sebagai rahmat bagi semesta alam ( _rahmatan lil ‘alamin_). Ia juga menekankan bahwa Gus Dur hidup bukan hanya untuk berguna, tetapi juga merdeka, tanpa rasa takut dalam memperjuangkan kebenaran.

Zulkarnain Mahmud, narasumber lainnya, menyoroti warisan intelektual Gus Dur yang bersifat organik. Ia menyesalkan semakin sempitnya ruang diskusi di kalangan muda yang kini lebih banyak diisi budaya kongkow di kafe. “Gus Dur mewariskan tradisi berpikir kritis dan ruang diskusi yang hidup. Ini harus kita hidupkan kembali,” ujarnya.

Zulkarnain juga menekankan bahwa nilai-nilai kemanusiaan Gus Dur berakar kuat dari tradisi pesantren yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman. “Kyai-kyai kita selalu mengedepankan aspek kemanusiaan dalam dakwahnya. Dari sanalah lahir peradaban Islam Indonesia yang ramah dan inklusif,” tambahnya.

Acara ini menjadi ruang refleksi penting bagi generasi muda untuk terus meneladani semangat kepahlawanan Gus Dur—seorang tokoh yang tak hanya menjadi milik Indonesia, tetapi juga dunia, karena keberaniannya dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan keadilan.