Kabarjatim.id | PasuruanGus Yahya ini memang berbahaya jika dibiarkan, gagasannya terlalu supreme bagi NU dan Republik ini.

1. NU dan Politik
Gus Yahya menyadari bahwa sebagai kekuatan civil society, NU tidak boleh berada dalam bayang-bayang kekuatan politik manapun apalagi turun kasta menjadi proxy. Mungkin sebagian nyinyir bahwa Gus Yahya bagian dari politik kekuasaan, tapi itu langkah bidak catur menuju kedaulatan berpolitik Nahdlatul Ulama yang sedang merancang kemandirian organisasi dalam beberapa tahun mendatang. Dengan sikap itu, maka Gus Yahya harus dihabisi karena konsep dan gagasan tentang NU yang berdaulat di politik sedang dikerjakan dengan sangat serius yang kedepan membuat NU tidak hanya disegani tapi juga tidak akan diatur oleh kekuasaan. termasuk hubungan dengan PKB misal, kita akan dibuat mikir keras dengan pertanyaan sederhana “PKB itu alat politik warga NU atau justru NU yang menjadi alat politik PKB?”

2. Distribusi Keadilan Sumber Daya Alam.
isu ini dijadikan triger untuk habisi Gus Yahya, situasinya juga dibuat pas dengan curah hujan intensitas tinggi di wilayah sumatera bagian utara. Narasi NU anti lingkungan dan pro tambang menjadi cacian dan makian setidak oleh netizen kepada NU Cq Gus Yahya. Padahal gagasan ini adalah gagasan tentang bagaimana negara yang tidak pernah adil dalam distribusi kekayaannya bahkan sebagian besar SDA kita dizinahi asing secara brutal oleh apa yang disebut Bung Karno dulu sebagai Neo Imperialisme.
Dengan lobby yang kuat, NU berhasil merubah struktur tata kelola SDA dimana ormas pendiri Republik berhak untuk peroleh distribusi kekayaan alam dari negara yang ia perjuangkan untuk kemakmuran masyarakat. Mereka tidak suka jika NU ini kaya dan berduit, karena dalam kelakarnya “tidak ada konglomerat bahkan negara sekelas amerika bisa kaya tanpa konsesi SDA, lah kita kok disuruh ngaplo terus diimingi proposal kegiatan”

3. NU dan Peran Global
Anda mungkin heran, kenapa PBNU di era Gus Yahya kok sering banget didatangi duta besar asing, semua negara besar termasuk yang sedang berkonflik seperti Ukraina dan Rusia semua sowan PBNU, atau publik kaget bagaimana ia bisa santai dan setara ketika bertemu Netanyahu yang kita tahu jaringan lobby politik globalnya ngeri itu. Dalam strategi diplomasi, gus yahya telah memainkan pay off terbaik dari game theory yang ia mainkan. Terlebih simpul-simpul global itu dia ketahui detail dan bisa dikomuniskasikan dengan baik, yang remeh temeh gagasan R20 beberapa waktu lalu, ya remeh bagiku karena agenda lebih besar bagi kemanusiaan sedang ia siapkan dengan sungguh.

Ala kulli hal, itulah mengapa orang rembang ini dihabisi, ia berbahaya bagi siapa saja yang tidak menghendaki NU berperan lebih dalam peradaban. Anda mungkin mlengos sambil mbatin bahwa tulisanku ini berlebihan, ya saya maklum karena anda tidak paham siapa aktor operasi besar ini.

Jika ada yang tanya sikapku, ini sikapku. Tanpa harus merendahkan sikap berbeda di konflik PBNU karena beliau semua juga punya pandangan yang sama “menjaga NU” walau tentu menjaga NU itu selaras dengan term “riayatul ummah”.
yang bikin sedih, panjenengan semua belum membahagiakan warga NU tapi dengan konflik ini justru membikin sedih warga NU, ini pertanggung jawaban yang berat, kelak.

Penulis : Zulkarnain Mahmud, Santri Ansor Pinggir Jalan.