Kabarjatim.id | Kota Probolinggo — Anggota MPR RI, Dra. Hj. Anisah Syakur, M.Ag, kembali tampil di garis terdepan dalam mengawal keteguhan ideologi bangsa. Pada Selasa malam, 9 Desember 2025, ia memimpin Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan bersama Relawan Bunda Anisah Kota Probolinggo di Paseban Sena, Kota Probolinggo, dengan fokus utama pada tiga nilai fundamental Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Acara ini tidak hanya menjadi ruang sosialisasi biasa, tetapi berubah menjadi panggung penegasan bahwa nilai-nilai kebangsaan tengah menghadapi ancaman serius. Di tengah derasnya arus informasi sesat, provokasi berbasis identitas, serta penetrasi ideologi-ideologi yang bertentangan dengan jati diri bangsa, Anisah Syakur menyampaikan pesan keras bahwa masyarakat tidak boleh lengah.
“Kalau Pancasila dikaburkan, UUD 1945 dipelintir, dan Bhinneka Tunggal Ika diabaikan, maka yang hancur bukan hanya negara, tetapi masa depan generasi kita. Kita tidak boleh memberi ruang sedikit pun pada upaya-upaya yang melemahkan fondasi Republik ini,” tegas Anisah dengan suara lantang dan tajam.
Di hadapan relawan yang memenuhi Paseban Sena, ia memaparkan secara lugas bahwa Pancasila adalah benteng moral bangsa, bukan sekadar dokumen sejarah. Menurutnya, penyimpangan nilai Pancasila saat ini bisa terlihat dari berbagai perilaku intoleransi, ujaran kebencian, dan munculnya kelompok-kelompok yang mencoba menolak keberagaman.
Ia mengingatkan bahwa UUD 1945 bukan teks mati, melainkan pedoman hidup bernegara yang harus dipahami dan dijalankan secara konsisten. “Banyak persoalan bangsa terjadi karena UUD 1945 hanya dihafal, tidak dipahami, dan tidak dijalankan. Ini harus dihentikan. Kita harus kembali pada konstitusi sebagai kompas utama kehidupan bernegara,” tegasnya.
Sementara itu, mengenai Bhinneka Tunggal Ika, Anisah memberi peringatan keras bahwa semboyan ini kini sedang diuji di tengah maraknya polarisasi masyarakat. Ia menilai bahwa perpecahan antarkelompok, konflik berbasis perbedaan, hingga gesekan sosial di tingkat lokal merupakan sinyal yang tidak boleh diabaikan.
“Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya tulisan di lambang negara. Ia adalah perintah moral untuk menerima, merangkul, dan melindungi keberagaman. Kalau kita biarkan perpecahan tumbuh, maka kita sedang mempercepat hancurnya persatuan bangsa,” ujarnya, disambut anggukan para peserta.
Kegiatan sosialisasi semakin hidup ketika para relawan diajak berdiskusi mengenai ancaman nyata yang dihadapi masyarakat, baik dari sisi penyebaran hoaks, ekstremisme digital, maupun propaganda yang menargetkan anak muda. Anisah menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh menjadi penonton dalam pertarungan menjaga keutuhan bangsa.
Ia menyampaikan dengan nada serius, “Membiarkan nilai kebangsaan memudar sama saja dengan membiarkan masa depan Indonesia dijajah kembali, bukan oleh bangsa asing, tetapi oleh kebodohan, kebencian, dan perpecahan yang kita biarkan tumbuh. Kita harus melawan.” terangnya.
Para Relawan Bunda Anisah Kota Probolinggo menyambut sosialisasi ini dengan semangat tinggi. Mereka menegaskan kesiapan untuk menjadi garda terdepan dalam menyebarkan pemahaman kebangsaan di lingkungan masing-masing, terutama bagi generasi muda yang rentan menjadi sasaran ideologi destruktif.
Dalam penutupnya, Anisah Syakur mengingatkan bahwa Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar materi sosialisasi, tetapi pedoman hidup yang harus dibela, dirawat, dan diperjuangkan. Ia memastikan bahwa dirinya akan terus turun ke daerah-daerah untuk melakukan sosialisasi secara masif dan tegas.
“Empat Pilar adalah pilar penyangga Republik ini. Kalau salah satu retak, maka bangsa ini limbung. Maka saya berdiri di sini untuk memastikan retakan itu tidak pernah terjadi,” pungkasnya.
Kegiatan berakhir dengan komitmen kolektif para relawan untuk menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan, memperkuat persatuan, dan memastikan Probolinggo tetap menjadi kota yang tegak di atas prinsip-prinsip kebhinekaan dan konstitusi negara.
