Kabarjatim.id | Sidoarjo -Isu pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan kini semakin mendapat perhatian di tengah pesatnya dinamika pembangunan daerah. Menjawab tantangan tersebut, Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) melalui Divisi Edukasi dan Advokasi menggelar Forum Mahasiswa Berdiskusi (FORMASI) 3.0 dalam bentuk lokakarya.

Kegiatan ini mengangkat tema “Ekonomi Politik Hijau: Menuju Pembangunan Berkelanjutan yang Responsif di Kabupaten Sidoarjo” sebagai upaya mendorong mahasiswa memahami arah pembangunan yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, 18 April 2026, bertempat di UMSIDA Kampus 1 dan diikuti oleh 95 peserta yang berasal dari mahasiswa Administrasi Publik semester 2 serta terbuka untuk umum. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam mengikuti setiap sesi diskusi yang berlangsung. FORMASI 3.0 menghadirkan narasumber dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo serta Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur, yang memberikan perspektif dari sisi pemerintah dan masyarakat sipil secara berimbang.

Dalam pemaparannya, perwakilan dari Bappeda Kabupaten Sidoarjo menjelaskan bahwa penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah saat ini telah mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan. Proses tersebut didasarkan pada kajian lingkungan hidup yang disusun oleh dinas terkait, sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi, tetapi juga dampak lingkungan dan sosial. Pemerintah daerah juga terus berupaya mengarahkan kebijakan pembangunan agar lebih adaptif terhadap isu keberlanjutan, termasuk melalui integrasi aspek lingkungan dalam setiap perencanaan.

Sementara itu, pemateri dari WALHI Jawa Timur menekankan pentingnya mengubah paradigma pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi pada industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi semata. Ia menyoroti bahwa pembangunan seharusnya turut memperhatikan keberadaan ruang terbuka hijau serta keberlanjutan ekosistem.

Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan menjadi faktor penting agar kebijakan publik yang dihasilkan tidak berdampak negatif terhadap lingkungan maupun kehidupan sosial masyarakat dalam jangka panjang.
Ketua pelaksana kegiatan, Arin, menyampaikan bahwa FORMASI 3.0 merupakan inisiatif untuk meningkatkan kapasitas berpikir kritis mahasiswa terhadap isu-isu pembangunan daerah. Menurutnya, pendekatan ekonomi politik hijau dipilih karena mampu memberikan sudut pandang yang lebih komprehensif dalam melihat pembangunan, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari relasi kekuasaan, kebijakan, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Dalam konteks Kabupaten Sidoarjo sebagai kawasan industri, isu seperti pencemaran lingkungan, alih fungsi lahan, dan ketimpangan sosial menjadi topik yang relevan untuk didiskusikan.
Selain itu, kegiatan ini juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam mengawal arah pembangunan daerah. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga mampu berkontribusi melalui gagasan kritis, kajian ilmiah, serta partisipasi aktif dalam ruang-ruang diskusi publik. Dengan demikian, keterlibatan mahasiswa dapat menjadi salah satu pendorong terciptanya kebijakan pembangunan yang lebih berpihak pada lingkungan dan kepentingan masyarakat luas.

Diskusi dalam kegiatan ini berlangsung secara dinamis dan interaktif. Para peserta aktif mengemukakan pertanyaan, pandangan, serta rekomendasi terkait berbagai isu yang dibahas. Hal ini menunjukkan tingginya kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sidoarjo, sekaligus memperlihatkan potensi besar generasi muda dalam mengawal arah kebijakan publik.

Melalui penyelenggaraan FORMASI 3.0, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami konsep ekonomi politik hijau secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.

Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya pembangunan yang inklusif, responsif, dan berkelanjutan. Ke depan, forum diskusi seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan guna memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan daerah, serta mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak pada lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.