Malang, Kabarjatim.id – Proses relokasi pedagang Pasar Gadang Kota Malang ke lokasi baru yang disiapkan Pemkot Malang mendapat sambutan positif dari para pedagang.

Perpindahan yang telah lama direncanakan tersebut disebut berjalan tanpa adanya unsur paksaan, meski di tengah masa transisi masih ditemukan sejumlah tantangan di lapangan.

Koordinator pembangunan Pasar Gadang, Abdul Qodir atau yang akrab disapa Abah Qodir, menegaskan bahwa relokasi ini merupakan hasil kesepakatan para pedagang. Kamis (7/5/2026).

Mendampingi kunjungan kerja dari Komisi C DPRD Kota Malang, Abah Qodir menyebutkan bahwa kondisi pasar lama yang sudah tidak layak, semrawut, serta kerap menimbulkan kemacetan menjadi alasan utama dorongan perpindahan ke lokasi yang lebih tertata.

“Keinginan pindah ini datang dari pedagang sendiri. Mereka ingin tempat yang lebih manusiawi dan nyaman untuk berinteraksi dengan pembeli,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dirinya bukan sosok baru di lingkungan pasar tersebut. Sejak 2005, ia telah beraktivitas sebagai pedagang buah grosir di kawasan Gadang, sehingga memahami betul dinamika dan kebutuhan para pelaku usaha di sana.

Rencana relokasi mulai menemukan kepastian ketika Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyediakan lahan untuk lokasi baru.

Meski berstatus sewa, kepastian ruang usaha tersebut menjadi titik penting yang mendorong para pedagang akhirnya bersedia pindah secara kolektif.

Menariknya, pembangunan pasar baru ini dilakukan secara swadaya oleh para pedagang. Tidak ada biaya yang dibebankan kepada pedagang lama yang telah memiliki izin resmi. Seluruh proses relokasi disebut berlangsung tanpa pungutan bagi penghuni sebelumnya.

“Untuk pedagang lama yang punya surat, benar-benar nol biaya. Tidak ada pungutan apa pun,” tegas Abah Qodir.

Adapun pembiayaan pembangunan fisik berasal dari kontribusi sukarela pedagang yang menambah unit kios atau bedak.

Untuk sektor buah, kontribusi yang disepakati mencapai sekitar Rp300 juta per unit tambahan, sementara kios berukuran kecil berada di kisaran Rp40 juta. Dana tersebut sepenuhnya digunakan untuk pembangunan fasilitas pasar tanpa keterlibatan pihak luar sebagai pemilik kios.

Saat ini, sekitar 60 pedagang buah dan 40 pedagang ikan telah mulai menempati area pasar yang baru.

Meski demikian, Abah Qodir mengakui masih terdapat sejumlah penyesuaian, terutama terkait arus pembeli, sistem parkir, serta akses jalan yang belum optimal.

“Pengunjung masih belum stabil, akses dan parkir juga masih dalam proses pembenahan. Banyak pelanggan lama yang belum mengetahui lokasi baru,” jelasnya.

Kondisi tersebut berdampak pada penurunan omzet sementara. Namun, pihak pengelola tetap optimistis aktivitas perdagangan akan kembali normal setelah seluruh fasilitas penunjang rampung.

Penyelesaian pembangunan gedung ditargetkan tuntas pada akhir Mei 2026. Setelah itu, fokus akan dialihkan pada penyempurnaan infrastruktur pendukung seperti area parkir dan akses masuk pasar.

“Kalau semuanya sudah selesai dan aksesnya nyaman, kami yakin aktivitas ekonomi akan pulih bahkan bisa lebih baik dari sebelumnya,” pungkasnya.

Relokasi ini menjadi penanda perubahan besar bagi pedagang Pasar Gadang, yang sebelumnya berjualan di area kumuh sejak 2005, kini mulai menempati kios permanen hasil gotong royong mereka sendiri.