Kabarjatim.id | Jakarta  – Ketua Dewan Pengawas Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (BPP PISPI), Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan nasional akan semakin kokoh apabila seluruh kebijakan pemerintah didukung dengan penguatan petani lokal sebagai pelaku utama produksi pangan.

Menurutnya, petani lokal tidak hanya harus mampu meningkatkan produksi, tetapi juga perlu didorong menjadi agripreneur yang memiliki orientasi bisnis, mampu berinovasi, memanfaatkan teknologi, serta memiliki daya saing yang kuat sehingga mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan kesejahteraan petani.

Menurut Prof. Achmad Tjachja Nugraha dalam MUNAS ke IV Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia, arah kebijakan pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan merupakan langkah strategis yang harus terus diperkuat melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi profesi, dan masyarakat.

Ia menilai petani lokal merupakan ujung tombak yang menentukan keberhasilan pembangunan sektor pertanian secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas pertanian tidak cukup hanya melalui perluasan lahan. Upaya tersebut harus disertai dengan penerapan teknologi modern, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kemudahan akses permodalan, kepastian pasar, penguatan kelembagaan petani, serta pengembangan sistem distribusi yang efisien.

Menurutnya, paradigma petani Indonesia juga harus terus berkembang. Petani masa kini tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga harus menjadi agripreneur, yakni pelaku usaha pertanian yang memiliki orientasi bisnis, mampu membaca peluang pasar, menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi, serta memanfaatkan inovasi dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan.

“Ketahanan pangan yang kuat harus dibangun dari desa. Ketika petani lokal semakin sejahtera, produksi meningkat, distribusi berjalan baik, dan harga tetap stabil, maka Indonesia akan semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya,” ujarnya.

Prof. Achmad juga mengapresiasi berbagai capaian pemerintah dalam memperkuat sektor pangan melalui peningkatan produksi, pembangunan infrastruktur pertanian, pengembangan irigasi, hilirisasi hasil pertanian, serta berbagai program yang berpihak pada kesejahteraan petani. Menurutnya, berbagai capaian tersebut menjadi modal penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan mandiri di bidang pangan.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan harus terus dijaga melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi profesi, dunia usaha, hingga masyarakat. Dengan demikian, hasil produksi petani lokal dapat terserap secara optimal, memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebagai organisasi yang menghimpun para sarjana pertanian Indonesia, Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) menyatakan komitmennya untuk terus mendukung program pemerintah melalui penguatan riset, pendampingan kepada petani, pengembangan inovasi pertanian, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong lahirnya generasi agripreneur yang tangguh, inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan berdaya saing global.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Achmad Tjachja Nugraha juga menghimbau seluruh sarjana pertanian Indonesia untuk mengambil peran aktif dan memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan sektor pertanian nasional.

Menurutnya, ilmu pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki para sarjana pertanian harus diwujudkan dalam bentuk inovasi, pendampingan kepada petani, penguatan kelembagaan, serta pengembangan teknologi yang mampu mempercepat terwujudnya swasembada pangan Indonesia.

“Saya mengajak seluruh sarjana pertanian di Indonesia untuk bersama-sama mengabdikan ilmu, pengalaman, dan inovasinya bagi kemajuan pertanian nasional. Mari kita menjadi bagian dari solusi dalam mewujudkan swasembada pangan, memperkuat ketahanan pangan nasional, dan meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia,” tegasnya.

Prof. Achmad Tjachja Nugraha optimistis bahwa dengan menjadikan petani lokal sebagai fondasi utama pembangunan pangan nasional serta mendorong tumbuhnya agripreneur di berbagai daerah, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan pangan dunia yang berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

“Dengan semangat kolaborasi, inovasi, serta penguatan petani lokal yang berorientasi bisnis atau agripreneur, saya optimistis Indonesia mampu menjadi salah satu negara terdepan dalam mewujudkan ketahanan pangan dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tutup Prof. Dr. Achmad Tjachja Nugraha.