Kabarjatim.id | Surabaya — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengoperasikan Laboratorium Teknologi Aspal Buton Berkelanjutan di Surabaya, Rabu (30/9/2026). Fasilitas tersebut disiapkan sebagai pusat riset dan pengembangan teknologi pengolahan aspal Buton (asbuton), termasuk pengembangan teknologi hidrotermal untuk meningkatkan efisiensi proses pemisahan bitumen dari mineral asbuton.

Laboratorium ini tidak hanya diarahkan untuk mendukung penelitian, tetapi juga pengujian dan sertifikasi aspal yang digunakan dalam pembangunan di Indonesia. Berbagai peralatan pengujian telah disiapkan dan akan terus dilengkapi sesuai kebutuhan.

Rektor ITS Prof Bambang Pramujati mengatakan, laboratorium tersebut disiapkan dengan berbagai peralatan untuk pengujian aspal. Peralatan itu akan terus dilengkapi untuk mendukung kebutuhan pengujian dan sertifikasi aspal.

“Laboratorium ini kami siapkan dengan peralatan-peralatan uji aspal. Nantinya akan kami lengkapi agar bisa memberikan sertifikasi,” kata Prof Bambang, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurutnya, sertifikasi tersebut diperlukan untuk memastikan kualitas aspal yang digunakan dalam berbagai pembangunan di Indonesia. ITS juga mendorong penguatan riset dan teknologi dalam pengembangan material aspal nasional.

“Supaya kami bisa memberikan sertifikasi pada aspal-aspal yang digunakan di berbagai pembangunan yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Di sisi lain, laboratorium tersebut juga diarahkan untuk mengembangkan teknologi ekstraksi aspal Buton. Teknologi hidrotermal menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk mengoptimalkan pemisahan bitumen dari mineral asbuton dengan tingkat efisiensi yang diklaim dapat melampaui 95 persen.

Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya ITS bersama mitra industri dalam mendorong pemanfaatan potensi aspal Buton sebagai sumber daya untuk material konstruksi nasional.

Dukungan terhadap pengembangan teknologi tersebut juga datang dari Aspindo Group. Perusahaan penyedia solusi infrastruktur dan produsen aspal yang berbasis di Surabaya sejak 1980 itu menyatakan kesiapan mendukung proses pengujian hingga pengembangan produksi dalam skala nasional.

CEO Aspindo Group Bobby Hartawan Wijaya mengapresiasi inovasi teknologi ekstraksi berbasis hidrotermal yang dikembangkan para peneliti ITS.

Menurut dia, sinergi antara perguruan tinggi dan industri diperlukan agar hasil riset dapat dikembangkan menjadi solusi yang memiliki manfaat lebih luas bagi kebutuhan material konstruksi nasional.

“Inovasi laboratorium ITS ini merupakan titik balik luar biasa bagi industri aspal nasional. Efisiensi ekstraksi hingga di atas 95% adalah terobosan yang kita butuhkan untuk menjadikan asbuton sebagai tuan rumah di negeri sendiri,” kata Bobby.

Dia menegaskan, Aspindo Group siap mendukung proses pengujian lanjutan sekaligus mendorong hasil riset tersebut menuju tahap hilirisasi dan produksi nasional.

“Aspindo Group bangga dan siap mendukung penuh proses pengujian lanjutan serta hilirisasi riset ini agar segera meluncur ke tahap produksi nasional,” jelas dia.

Menurut Bobby, dukungan Aspindo Group tidak hanya diarahkan pada aspek pengujian dan pengembangan teknologi, tetapi juga mencakup kesiapan ekosistem distribusi. Infrastruktur logistik dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan produk hasil hilirisasi dapat menjangkau kebutuhan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.

“Kami telah menyiapkan ekosistem logistik yang matang, mulai dari terminal penyimpanan hingga armada transportasi darat dan laut. Komitmen Aspindo Group adalah memastikan hasil hilirisasi asbuton berteknologi tinggi ini nantinya dapat terdistribusi secara lancar, efisien, dan merata untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia,” jelas dia.

Saat ini, Aspindo Group didukung jaringan infrastruktur yang mencakup empat terminal aspal, sekitar 200 unit truk tanker, serta jalur logistik laut yang diperkuat dua kapal tanker aspal khusus. Salah satu kapal tanker tersebut memiliki kapasitas angkut lebih dari 150 drum aspal.

Kerja sama ITS dan Aspindo Group melalui Laboratorium Teknologi Aspal Buton Berkelanjutan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kapasitas riset perguruan tinggi dengan kebutuhan industri, khususnya dalam pengembangan, pengujian, hilirisasi, dan distribusi material aspal berbasis sumber daya dalam negeri.