KabarJatim.ID |Tuban — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum krusial bagi penguatan sinergi antarlembaga pendidikan Islam di Kabupaten Tuban. Memanfaatkan momentum bersejarah ini, Program Pascasarjana Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI) Tuban membangun kolaborasi strategis dengan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Hidayatun Najah serta jajaran madrasah dan pesantren se-Kabupaten Tuban untuk menggelar Seminar Nasional Pendidikan Islam pada Kamis (22/10/2026).
Kegiatan akademik berskala nasional yang berlangsung di Aula Lantai 3 MI Hidayatun Najah Tuban ini mengusung tema “Rekonstruksi Sistem Manajemen Mutu Pendidikan Islam Berbasis Value dan Akhlakul Karimah pada Era Transformasi Digital”.
Agenda kolaboratif ini menegaskan komitmen UAI Tuban dalam menjangkau dan merangkul berbagai strata institusi pendidikan daerah, mulai dari tingkat dasar hingga pesantren, guna merumuskan arah baru penjaminan mutu pendidikan Islam di era modern.
Kekuatan kolaborasi ini tercermin nyata dari komposisi dan antusiasme 138 peserta luring yang memadati lokasi acara. Utusan hadir dari beragam institusi, meliputi 85 pendidik dari LPI Hidayatun Najah Tuban, 8 mahasiswa Pascasarjana UAI, 25 pendidik MINU Tuban, 13 utusan MI Mulyoagung Singgahan, 4 pengajar MIN 1 Tuban, 2 perwakilan Pesantren Hafidza, serta 1 delegasi dari MI Syifaul Jinan Kerek.
Dalam sambutan utamanya, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kelembagaan, Inovasi, dan Kerja Sama UAI Tuban, Dr. Muhammad Aziz, menggarisbawahi bahwa kunci utama kemajuan pendidikan Islam terletak pada keberanian untuk berkolaborasi dan menanggalkan ego sektoral antar-lembaga.
“Kegiatan kolaborasi antarlembaga pendidikan dalam menyelenggarakan agenda akademik seperti ini sangat penting dan bernilai strategis. Ketika Perguruan Tinggi, madrasah, dan lembaga pesantren saling bergandengan tangan, kerja-kerja besar dalam mentransformasi mutu pendidikan Islam akan menjadi jauh lebih mudah dilaksanakan, efisien, serta memberikan dampak langsung yang nyata bagi masyarakat,” tegas Pengurus LPTNU Kab Tuban ini di hadapan ratusan akademisi dan pendidik.
Menurut Dr. Muhammad Aziz, model kerja sama lintas lembaga ini membuktikan bahwa batas-batas administratif dan teknis yang selama ini menjadi kendala dalam peningkatan mutu pendidikan dapat teratasi dengan mudah jika dipikul bersama secara gotong royong.
Ia menambahkan bahwa UAI Tuban secara konsisten terus membuka pintu kemitraan seluas-luasnya bagi seluruh sekolah, madrasah, dan pesantren di wilayah Tuban dan sekitarnya. Langkah ini merupakan bentuk nyata pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi dan tanggung jawab kelembagaan UAI dalam mengawal peningkatan kualifikasi serta kapasitas sumber daya manusia (SDM) pendidik Islam.
“Perguruan tinggi tidak boleh berdiri di atas menara gading. Kami di UAI Tuban berkomitmen menjadi mitra tumbuh bagi sekolah dan pesantren. Dengan sinergi berkesinambungan, tantangan tata kelola dan penjaminan mutu di era digital yang kompleks ini bisa kita selesaikan secara bergotong royong,” tambah Dr. Muhammad Aziz yang juga Alumni Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci-Gresik ini.
Pentingnya penguatan sinergi ini disambut hangat oleh tuan rumah. Direktur LPI Hidayatun Najah, Ust. M. Gholib, S.Pd.I., menyatakan bahwa kemitraan dengan Pascasarjana UAI Tuban memberikan angin segar dan dorongan moral bagi pengelola madrasah swasta di daerah untuk terus meningkatkan standar mutu organisasinya.
Memasuki sesi diskusi ilmiah yang dipandu oleh moderator Ustad Ahmad Al-Adib, M.Pd., dua narasumber utama yakni Dr. Muhammad Aziz, dan praktisi pendidikan Tuban, Dr. Sariban, M.Pd., membedah secara tajam urgensi rekonstruksi manajemen mutu pendidikan Islam di tengah derasnya arus transformasi digital.
Dr. Muhammad Aziz memaparkan bahwa reorientasi manajemen mutu modern tidak boleh terjebak pada capaian kognitif dan formalitas akreditasi administratif belaka. Menurutnya, adopsi teknologi seperti artificial intelligence (AI), big data, dan cloud computing harus diposisikan sebagai akselerator (enabler), sedangkan nilai-nilai keislaman (Islamic values) dan akhlakul karimah tetap memegang kendali sebagai fondasi dan pengarah utama.
Melengkapi pemaparan tersebut, Dr. Sariban, M.Pd. mengingatkan para peserta akan bahaya digitalisasi yang hampa nilai. Ia menekankan bahwa kecanggihan teknologi tanpa diimbangi budaya mutu berlandaskan akhlakul karimah hanya akan menghasilkan lulusan yang unggul secara teknis namun krisis karakter dan etika.Forum seminar nasional ini juga berhasil merumuskan pentingnya penyusunan cetak biru (blueprint) Total Quality Management (TQM) yang adaptif bagi pesantren dan madrasah. Formulasi ini mengintegrasikan kriteria penilaian mutu operasional berbasis teknologi dengan indikator ketercapaian pembentukan karakter ketauhidan peserta didik.
Sebagai penutup rangkaian acara, seluruh pimpinan dan perwakilan lembaga pendidikan yang hadir bersepakat mendirikan jaringan komitmen bersama. Deklarasi ini memastikan bahwa hasil seminar kolaboratif tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan berlanjut pada program pendampingan tata kelola dan pelatihan penjaminan mutu secara berkala.
Melalui momentum Hari Santri Nasional 2026 ini, kolaborasi antara Pascasarjana UAI Tuban dan lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Tuban berhasil membuktikan bahwa sinergi lintas institusi adalah kunci utama dalam mewujudkan pendidikan Islam yang bermutu, berdaya saing global, dan tetap teguh berakar pada akhlakul karimah.
