MALANG – Ditengan kondisi ekonomi nasinal yang kurang baik terutama kenaikan energi, pemerintah Kota Malang tengah mengkaji berbagai skenario untuk menekan pengeluaran Bahan Bakar Minyak (BBM) kendaraan operasional dinas. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya efisiensi anggaran sekaligus menjaga efektivitas pelayanan kepada masyarakat.

 

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan perhitungan kebutuhan anggaran BBM masih terus dilakukan. Pemerintah daerah saat ini sedang menyusun sejumlah alternatif yang dinilai dapat mengurangi beban pengeluaran operasional.

 

“Sedang kita hitung karena sekarang ada kenaikan BBM. Kita berupaya dengan beberapa skenario yang sudah kita kaji, apakah nanti menggunakan energi non-fosil melalui kendaraan listrik untuk mengurangi pengeluaran BBM. Perhitungannya tidak mudah dan akan kita sesuaikan juga dengan kemungkinan perubahan APBD pada akhir tahun,” ujar Wahyu, Selasa (17/6/2026).

 

Menurutnya, berbagai opsi masih berada dalam tahap pengkajian sehingga belum ada keputusan final terkait kebijakan yang akan diambil. Pemkot Malang akan mempertimbangkan efektivitas, efisiensi, serta kemampuan keuangan daerah sebelum menentukan langkah yang paling tepat.

 

“Masih melalui pengkajian. Apakah nanti menggunakan mobil listrik, mengurangi jumlah kendaraan operasional, kembali memaksimalkan penggunaan kendaraan roda dua, atau bahkan menambah penerapan work from home (WFH). Semua itu menjadi bagian dari skenario yang sedang kami hitung,” katanya.

 

Wahyu menegaskan, setiap kebijakan yang nantinya dipilih akan diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi belanja daerah dan kualitas pelayanan publik. Pemkot Malang juga akan menyesuaikan kebijakan tersebut dengan kondisi fiskal daerah serta kebutuhan operasional perangkat daerah di lingkungan pemerintah kota.