Pasuruan, Kabarjatim.id – Pelaku usaha penyedia makanan bergizi di Kabupaten Pasuruan, Anjar Supriyanto, menyatakan dukungan terhadap implementasi Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 yang mengatur penyesuaian operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada periode hari libur.

Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat tata kelola, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat akuntabilitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi salah satu program strategis nasional dalam peningkatan kualitas gizi masyarakat.

“Penyesuaian operasional ini kami pandang sebagai langkah penting dalam memastikan program tetap berjalan tertib, terukur, dan berkelanjutan,” ujar Anjar, Jumat (19/6/2026).

Ia menegaskan bahwa Program MBG bukan sekadar program penyediaan makanan, melainkan juga instrumen percepatan penurunan angka stunting melalui pendekatan pangan beragam, bergizi, dan berimbang (3B).

Dalam pelaksanaannya, program ini dinilai telah membuka ruang kolaborasi lintas sektor.

Mulai dari petani, peternak, pelaku UMKM, pasar tradisional, hingga penyedia jasa logistik, seluruhnya terlibat dalam rantai pasok yang saling menguatkan.

Anjar juga mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap kepastian tata kelola selama masa libur, terutama bagi pelaku usaha yang terlibat dalam ekosistem SPPG.

Ia berharap sinergi dengan pelaku ekonomi lokal seperti pasar tradisional, distributor bahan pangan, peternak ayam petelur, peternak unggas, serta penyedia kebutuhan dapur tetap terjaga.

“Selama ini mereka menjadi bagian penting dalam memastikan ketersediaan bahan baku yang aman dan berkualitas,” ujarnya.

Lebih jauh, ia optimistis Program MBG akan memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya pada peningkatan kualitas gizi anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui, tetapi juga terhadap penguatan ketahanan pangan daerah dan penciptaan lapangan kerja baru.

Di sisi lain, Anjar juga menanggapi adanya pihak-pihak yang masih menyampaikan kritik terhadap program tersebut. Ia menyebut kritik merupakan bagian dari demokrasi yang perlu dihormati.

Namun demikian, ia mengajak publik untuk melihat program MBG secara lebih utuh sebagai investasi jangka panjang sumber daya manusia Indonesia.

“Kami memahami adanya kritik. Namun yang terpenting adalah memastikan program ini terus diperbaiki dan tidak kehilangan tujuan utamanya, yaitu menyiapkan generasi yang sehat dan bebas stunting,” tutupnya.

Anjar menambahkan, setiap porsi makanan dalam program ini merupakan bagian dari upaya besar membangun kualitas generasi masa depan Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya saing.