KabarJatim.Id | KUALA LUMPUR, MALAYSIA – Penutupan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia pada Jumat (24/07/2026) tidak sekadar menjadi ajang perpisahan emosional. Momentum ini menjadi event penting bagi Dr. Muhammad Aziz, Dosen Pembimbing Lapangan (Supervisor) dan Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kelembagaan, Inovasi dan Kerjasama dari Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI), untuk menyuarakan isu krusial mengenai nasib pendidikan anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Di hadapan 170 peserta didik Sanggar Bimbingan (SBSM) dan gabungan mahasiswa dari tiga perguruan tinggi (Universitas Al-Hikmah Indonesia, UIN Sunan Ampel, dan UNUSA), Dr. Aziz menegaskan bahwa dedikasi mahasiswa di lapangan harus berlanjut menjadi gerakan intelektual yang lebih sistematis.

Dalam sambutan penutupnya, Dr. Aziz melontarkan statement strategis terkait kondisi riil di lapangan. Ia menyoroti bahwa selama ini sektor pendidikan bagi anak pekerja migran Indonesia di Malaysia belum mendapatkan perhatian dan pengelolaan yang maksimal, baik dari pemerintah Indonesia maupun Malaysia. “Kehadiran mahasiswa kami di sini adalah bentuk pengabdian, namun tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kita melakukan riset kolaboratif untuk memperbaiki tata kelola pendidikan migran yang selama ini masih berada di area ‘abu-abu’. Institusi pendidikan harus hadir di mana pemerintah belum mampu menjangkau secara optimal,” tegas Dr. Aziz. Ia berharap jalinan silaturahmi antara perguruan tinggi dengan Sanggar Bimbingan di Malaysia menjadi pintu masuk bagi riset-riset transnasional yang mampu memberikan rekomendasi kebijakan bagi kedua negara

Pernyataan dibawa Dr. Aziz tersebut disambut baik oleh pengelola Sanggar. Pembina SB, Dra. Mimin Mintarsih, mengakui bahwa kehadiran delegasi Universitas Al-Hikmah Indonesia memberikan warna tersendiri. UAI dinilai berhasil meninggalkan warisan (legacy) yang sangat dibutuhkan anak-anak pekerja migran untuk menjaga akar identitas mereka. “Mahasiswa Universitas Al-Hikmah Indonesia tidak hanya membantu mengajar, tetapi meninggalkan jejak budaya yang mendalam. Mereka mengajari anak-anak kami seni tari tradisional Indonesia dan teknik mendongeng menggunakan boneka. Ini adalah cara yang luar biasa dalam merawat nasionalisme anak-anak di tanah perantauan,” ungkap Dra. Mimin. Dra. Mimin juga memaparkan bahwa hingga Juli 2026, telah lahir sekitar 300 alumni KKN Internasional di sanggar tersebut, yang rencananya akan dikumpulkan dalam Reuni Akbar Alumni KKN se-Indonesia pada November mendatang.

Penutupan yang Humanis: Dongeng dan Sinema

Acara yang berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.30 waktu setempat ini ditutup dengan aksi memukau dari Novi Triwahyuni, mahasiswa UAI, yang memperagakan seni mendongeng dengan media boneka. Gelak tawa anak-anak sanggar pecah saat Novi membawakan narasi edukatif yang imajinatif, sebelum akhirnya seluruh hadirin hanyut dalam suasana kekeluargaan melalui sesi nonton film bersama. Melalui penutupan ini, Universitas Al-Hikmah Indonesia sekali lagi membuktikan jargonnya: “Wisdom Beyond Borders”. Bahwa pengabdian internasional bukan hanya soal perpindahan fisik, melainkan keberanian intelektual untuk menyentuh masalah kemanusiaan melalui aksi dan riset yang bermutu.