Malang, Kabarjatim.id — DPRD Kabupaten Malang meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan ancaman kekeringan, krisis air bersih, gangguan terhadap sektor pertanian, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Penguatan mitigasi menjadi penting menyusul penetapan status tanggap darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Malang. DPRD menegaskan akan terus menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan penanganan bencana berjalan efektif, terukur, dan tepat sasaran.

Anggota DPRD Kabupaten Malang, Ahmad Andi, mengatakan BPBD dituntut bergerak cepat dan taktis, sekaligus memastikan setiap langkah penanganan dilakukan secara transparan.

Menurutnya, meningkatnya risiko bencana pada puncak kemarau membutuhkan respons yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga berbasis mitigasi dan kesiapsiagaan.

“Sebagai lembaga pengawasan, DPRD Kabupaten Malang memastikan BPBD bekerja secara taktis, cepat, dan transparan mengingat DPRD Kabupaten Malang telah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan serta kebakaran hutan,” kata Ahmad Andi.

Salah satu perhatian utama DPRD adalah kesiapan logistik dan tata kelola distribusi air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan. Evaluasi diperlukan agar bantuan dapat disalurkan secara tepat waktu, proporsional, dan menjangkau wilayah yang benar-benar membutuhkan.

DPRD juga mendorong adanya sinkronisasi data antara BPBD dan Perumda Tirta Kanjuruhan. Akurasi data mengenai kebutuhan dan ketersediaan air bersih dinilai menjadi fondasi penting dalam menyusun pola distribusi serta menentukan prioritas penanganan di wilayah terdampak.

“Catatan kritis tentunya BPBD untuk segera evaluasi logistik dan manajemen terkait dengan krisis air bersih, kemudian audit terkait dengan sinkronisasi data dengan Perumda Tirta Kanjuruhan,” ujarnya.

Selain persoalan air bersih, sektor pertanian juga menjadi perhatian serius. Kemarau berkepanjangan berpotensi menurunkan ketersediaan air bagi lahan pertanian dan meningkatkan risiko gagal panen. Karena itu, langkah antisipatif perlu disiapkan sejak dini melalui pemetaan wilayah rawan, pengelolaan sumber air, serta koordinasi lintas sektor.

Pada saat yang sama, kesiapsiagaan menghadapi karhutla harus terus ditingkatkan. Sejumlah kawasan di Kabupaten Malang memiliki tingkat kerawanan kebakaran yang perlu mendapat perhatian khusus, terutama ketika kondisi vegetasi mengering dan curah hujan menurun.

“Kemudian mitigasi sektor pertanian, kemudian evaluasi kesiapsiagaan pengendalian kebakaran hutan,” katanya.

Ahmad Andi juga menekankan pentingnya memperkuat sistem peringatan dini sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana. Sistem tersebut harus didukung dengan edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat mampu mengenali potensi ancaman dan mengambil langkah pencegahan sebelum bencana berkembang menjadi lebih luas.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci dalam menghadapi musim kemarau, khususnya di wilayah lereng gunung dan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Kesadaran untuk menghemat air, menjaga lingkungan, serta melaporkan potensi kebakaran sejak dini perlu terus dibangun.

“Kemudian penguatan sistem peringatan dini dan edukasi masyarakat serta melakukan mitigasi-mitigasi yang terkait dengan kemarau yang tentunya sekarang ini sudah menjadi puncak dan dimungkinkan cukup lama,” ucapnya.

DPRD Kabupaten Malang berharap penanganan dampak kemarau tidak berjalan secara parsial. Sinergi antara BPBD, perangkat daerah terkait, Perumda Tirta Kanjuruhan, pemerintah desa, hingga masyarakat perlu diperkuat agar setiap kebijakan dan tindakan di lapangan memiliki arah yang jelas.

Dengan penguatan mitigasi, ketepatan distribusi bantuan, validitas data, kesiapsiagaan karhutla, serta keterlibatan aktif masyarakat, dampak musim kemarau terhadap ketersediaan air bersih, ketahanan pertanian, dan kelestarian lingkungan di Kabupaten Malang diharapkan dapat ditekan secara maksimal.