Kabarjatim.id | Surabaya -Kepiawaian KH. Yahya Cholil Staquf dalam memimpin Nahdlatul Ulama selama periode 2021–2026 telah menorehkan sejumlah capaian penting yang membawa NU semakin dikenal dan diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional .
Salah satu momentum yang sangat menonjol adalah keterlibatan NU dalam forum G20 di Bali, melalui upaya menghadirkan dan mempertemukan para pemuka agama dari berbagai belahan dunia untuk duduk bersama, berdialog, dan membangun komitmen bersama bagi terciptanya perdamaian dunia.
Poin penting dari Religion 20 (R20)—forum dialog agama resmi bagian dari G20 yang diinisiasi oleh Nahdlatul Ulama—adalah menjadikan nilai-nilai agama sebagai sumber solusi bagi krisis dan perdamaian global.
Kemampuan komunikasi, penguasaan bahasa asing, serta wawasan internasional yang dimiliki, KH. Yahya Cholil Staquf menjadi modal penting dalam membangun komunikasi lintas agama dan lintas negara.
Kemampuan tersebut membuat beliau tampil percaya diri dalam forum internasional dan mampu meyakinkan para pemuka agama dunia untuk hadir serta terlibat dalam agenda perdamaian.
Terlebih lagi, keterlibatan NU dalam forum strategis tersebut memperoleh dukungan dan persetujuan dari pemimpin tertinggi negara Indonesia dalam rangkain acara G20.
Hal ini menunjukkan bahwa NU di bawah kepemimpinannya tidak hanya hadir sebagai organisasi keagamaan nasional, tetapi mulai memainkan peran sebagai aktor masyarakat sipil keagamaan dalam percaturan global.
NU Semakin Dikenal di Dunia Internasional,
Keingintahuan dan kekaguman berbagai negara sahabat terhadap Nahdlatul Ulama juga semakin terlihat selama periode kepemimpinannya.
Berbagai organisasi okeagamaan, tokoh internasional, serta perwakilan diplomatik dari sejumlah negara datang berkunjung dan melakukan dialog dengan Ketua Umum PBNU di Kantor PBNU Jakarta.
Fenomena tersebut menunjukkan meningkatnya soft power NU. NU tidak hanya dipandang sebagai organisasi dengan jumlah warga yang besar, tetapi juga sebagai organisasi keagamaan yang memiliki gagasan, tradisi keislaman, dan pandangan keagamaan yang dapat memberikan kontribusi terhadap persoalan-persoalan global, khususnya perdamaian, toleransi, moderasi beragama, dan hubungan antarperadaban.
Pertumbuhan dan Penguatan Basis Jamaah
Di dalam negeri, gerakan NU pada periode tersebut juga menunjukkan dinamika yang cukup kuat. Banyak masyarakat yang menyatakan diri sebagai bagian dari NU, berafiliasi dengan jam’iyah, mengikuti kegiatan ke-NU-an, serta mengamalkan tradisi dan amaliah Nahdlatul Ulama.
Berdasarkan data survei yang sering dikutip pada periode tersebut, pada tahun 2024 sekitar 56,9% masyarakat Muslim Indonesia mengidentifikasi diri sebagai warga yang mengaku NU dan berafiliasi dengn NU, yang jika dikonversikan secara kasar mencapai sekitar 140 juta jiwa.
Angka tersebut, apabila digunakan secara hati-hati sesuai metodologi surveinya, menggambarkan betapa besar potensi sosial dan kultural yang dimiliki NU.
Besarnya jumlah jamaah tersebut sekaligus menjadi amanah besar bagi jam’iyah. Tantangannya bukan hanya bagaimana mempertahankan jumlah warga, tetapi bagaimana mengubah besarnya basis jamaah menjadi kekuatan pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, kebangsaan, dan peradaban.
Transformasi Digital melalui DIGDAYA
Salah satu terobosan penting dalam tata kelola jam’iyah adalah pengembangan sistem administrasi digital DIGDAYA.
Gagasan ini merupakan bagian dari upaya melakukan transformasi administrasi organisasi agar lebih cepat, akuntabel, transparan, terintegrasi, dan mudah dikendalikan.
Digitalisasi tersebut memiliki arti strategis karena NU mempunyai struktur organisasi yang sangat luas, mulai dari tingkat PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU, PRNU hingga anak ranting.
Dengan sistem digital yang baik, keberadaan struktur, data organisasi, administrasi, dan aktivitas jam’iyah dapat lebih mudah dipantau dan dikelola secara terintegrasi.
Dengan demikian, digitalisasi bukan sekadar perubahan dari sistem manual menjadi sistem elektronik, tetapi merupakan bagian dari perubahan budaya organisasi menuju tata kelola jam’iyah yang lebih modern, tertib, transparan, dan terukur.
Membangun Sistem Kaderisasi dan Kepemimpinan
Dalam bidang kaderisasi, periode kepemimpinan KH. Yahya Cholil Staquf juga memberikan perhatian terhadap pembangunan sistem kaderisasi yang lebih terstruktur dan berjenjang. Kaderisasi diarahkan mulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjutan (advanced), dengan harapan calon-calon pemimpin NU memiliki kemampuan manajerial, memahami jati diri NU, serta menguasai visi dan misi jam’iyah sebagaimana tercermin dalam prinsip-prinsip dasar Nahdlatul Ulama.
Hal ini sangat penting karena NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola organisasi secara administratif, tetapi juga memahami ruh, sejarah, tradisi, nilai, dan cita-cita para muassis NU.
Sejalan dengan penguatan kemampuan manajemen organisasi, muncul pula gagasan tentang Halaqah Piagam Nilai-Nilai Keulamaan Nahdlatul Ulama. Gagasan ini memiliki arti yang sangat strategis. NU didirikan, dirawat, dan dikembangkan oleh para ulama. Oleh karena itu, pengurus NU idealnya tidak cukup hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga harus mempunyai kualitas keulamaan, kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, dan komitmen terhadap nilai-nilai Aswaja.
Dengan demikian, idealnya seorang pemimpin NU memiliki keseimbangan antara ilmu keagamaan dan akhlak ulama di satu sisi, serta kemampuan manajemen, kepemimpinan, komunikasi, dan kecakapan menggerakkan organisasi di sisi yang lain.
Warisan Kepemimpinan dan Tantangan bagi Penerus Kini, ketika KH. Yahya Cholil Staquf tidak lagi berada pada posisi pucuk pimpinan dan tidak lagi memiliki otoritas langsung untuk menentukan arah perjalanan NU, berbagai capaian tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari warisan kepemimpinan yang akan menjadi parameter bagi generasi berikutnya.
Setiap kepemimpinan tentu memiliki kelebihan, kekurangan, keberhasilan, maupun pekerjaan rumah yang belum selesai. Karena itu, capaian yang telah dibangun tidak semestinya berhenti hanya karena terjadi pergantian kepemimpinan. Sebaliknya, hal-hal baik yang telah diletakkan perlu dipertahankan, dievaluasi, dan dikembangkan.
Bagi Ketua Umum PBNU berikutnya, warisan tersebut sekaligus menjadi modal sekaligus tantangan. Modal karena telah tersedia fondasi internasionalisasi NU, digitalisasi administrasi, penguatan kaderisasi, serta pengembangan nilai-nilai keulamaan.
Tantangan karena semua itu harus diteruskan dengan kualitas yang lebih baik, disempurnakan sesuai kebutuhan zaman, dan diarahkan agar semakin memberikan manfaat bagi jamaah, jam’iyah, bangsa, dan umat manusia.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kepemimpinan bukan hanya terletak pada siapa yang memimpin dan berapa lama ia memimpin, tetapi pada apa yang ia tinggalkan setelah masa kepemimpinannya berakhir.
Jika sebuah kepemimpinan mampu meninggalkan sistem, gagasan, jaringan, kader, dan budaya organisasi yang lebih baik, maka sesungguhnya kepemimpinan tersebut telah memberikan warisan yang bernilai bagi generasi sesudahnya.
KH. Yahya Cholil Staquf telah meletakkan sejumlah fondasi. Tugas generasi penerus bukan sekadar mempertahankan, tetapi melanjutkan, menyempurnakan, dan membawa Nahdlatul Ulama menjadi jam’iyah yang semakin kuat di dalam negeri serta semakin berpengaruh dalam membangun peradaban dan perdamaian dunia.
Penulis : H. Ahmad Muhaimin M. Pd
