Kabarajatim.id | Pasuruan — Promosi kegiatan SMK Negeri 1 Beji yang menampilkan seorang DJ sebagai guest star menuai sorotan. Materi promosi yang beredar di media sosial sekolah memperlihatkan tulisan “THE MAIN GUEST STAR” dengan sosok DJ serta keterangan “DJ LIKA LIKU LAKI LAKI”.
Tak berhenti di situ, unggahan lainnya juga menyebut suasana kegiatan sebagai “Euforia acara Jetz”. Tampilan promosi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan lebih mendasar mengenai batas antara kegiatan pendidikan dengan hiburan berkonsep party di lingkungan sekolah.
Sorotan itu bukan semata-mata mengenai keberadaan hiburan dalam kegiatan pelajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika DJ, guest star, dan atmosfer euforia justru terlihat menonjol sebagai bagian dari representasi sebuah kegiatan yang berlangsung di lingkungan lembaga pendidikan.
Sekolah pada hakikatnya bukan sekadar tempat berkumpul atau menghadirkan hiburan. Sekolah merupakan institusi pendidikan yang memiliki tanggung jawab membentuk karakter, kedisiplinan, intelektualitas, kreativitas, serta tanggung jawab peserta didik.
Persoalan tersebut menjadi semakin serius ketika dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Sementara Pasal 4 ayat (4) menegaskan penyelenggaraan pendidikan dengan memberikan keteladanan, membangun kemauan, serta mengembangkan kreativitas peserta didik.
Karena itu, publik patut mempertanyakan apa pesan pendidikan yang hendak dibangun ketika sebuah kegiatan sekolah justru dipromosikan dengan menonjolkan panggung DJ dan atmosfer pesta.
Hiburan tentu tidak otomatis bertentangan dengan pendidikan. Namun, ketika format hiburan tersebut menjadi wajah utama kegiatan, pihak sekolah dituntut mampu menjelaskan tujuan, konsep, serta nilai edukatif yang terkandung di dalamnya.
Jangan sampai sekolah justru kehilangan orientasi karena kemeriahan acara lebih dominan daripada substansi pendidikan.
Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, mulai dari kualitas pembelajaran, pembentukan karakter, kedisiplinan, literasi hingga kesiapan peserta didik menghadapi dunia kerja, munculnya promosi kegiatan bernuansa party di lingkungan sekolah wajar mengundang pertanyaan publik.
Salah satu warga Beji menilai, kehadiran DJ dengan nuansa pesta kurang tepat apabila menjadi bagian yang menonjol dalam kegiatan pendidikan.
“Miris saja Mas, anak-anak masih usia dini sudah dikenalkan gaya-gaya hiburan malam. Mungkin menurut mereka untuk menghibur, tapi tidak dengan saat dalam masa pendidikan. Dan bukan hanya saya saja yang heran. Beberapa warga lainnya hanya bisa diam,” ujarnya.
Ia mengatakan, sekolah semestinya tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan dan tanggung jawab. Ia menambahkan, setiap kegiatan di lingkungan sekolah idealnya tetap memiliki nilai edukatif.
“Karena itu, ketika panggung DJ dan atmosfer pesta justru menjadi bagian yang sangat menonjol dalam promosi kegiatan sekolah, publik wajar mempertanyakan pesan pendidikan apa yang sebenarnya hendak dibangun,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, bahwa sorotan tersebut tak lepas dari tujuan pendidikan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Menurutnya, pendidikan diarahkan untuk membentuk watak serta mengembangkan potensi peserta didik.
“Dengan demikian, persoalannya bukan apakah siswa boleh mendapatkan hiburan. Persoalannya adalah ketika hiburan dengan format DJ dan nuansa party justru tampil sebagai wajah utama sebuah kegiatan sekolah. Lalu seperti apa jadinya nanti,” sindirnya.
Sementara itu, salah satu guru yang dikonfirmasi media ini mengatakan, dirinya sudah tidak menjabat sebagai humas SMKN 1 Beji. “Mohon maaf saya sekarang bukan humas,” katanya singkat, Kamis (03/09).
Saat ditanya mengenai nomor telepon kepala sekolah, ia mengarahkan media untuk menghubungi petugas keamanan sekolah. “Mohon maaf njenengan langsung tanyakan ke satpam,” jelasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya mendapatkan konfirmasi dari pihak SMKN 1 Beji untuk memperoleh penjelasan atas kegiatan yang menjadi perhatian warga tersebut.
