Kabarjatim.id | Pasuruan — Semangat kebudayaan dan rasa syukur membaur dalam satu harmoni di Dusun Babat, Desa Randupitu, Kecamatan Gempol. Ribuan warga tumpah ruah menikmati Pagelaran Wayang Kulit dan Campursaridalam rangka Ruwat Desa, tradisi sakral yang terus dijaga sebagai warisan leluhur dan bentuk doa bersama agar desa dijauhkan dari mara bahaya serta diberi keberkahan sepanjang tahun.
Kemeriahan ini menjadi puncak dari serangkaian acara sejak pagi hari, dimulai dengan ziarah ke makam para leluhur yang telah babat alas Desa Randupitu. Kegiatan ini menjadi wujud penghormatan atas jasa mereka sekaligus pengingat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan.


Menjelang sore, nuansa kearifan lokal kian terasa dengan prosesi Kirab Ancak, yaitu tradisi mengarak hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang melimpah. Barisan warga dengan pakaian adat membawa tumpeng dan aneka hasil tani berjalan bersama dalam kebersamaan yang hangat dan penuh harap.
Malam harinya, panggung megah berdiri di tengah desa. Ribuan pasang mata menyaksikan keindahan alunan musik dari Campursari Sekar Sari yang membuka acara. Suasana semakin khidmat dan menggugah ketika Ki Dalang Sudarto dari Purwosari naik ke panggung membawakan lakon Wahyu Ketenteraman”, menggugah kesadaran kolektif akan pentingnya hidup dalam kedamaian, harmoni, dan gotong royong.
Tak hanya masyarakat biasa, sejumlah tokoh penting juga turut hadir. Mulai dari Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan H. Samsul Hidayat, S.Ag, M.Pd.I, perwakilan Dinas Pendidikan, Forkopimka Gempol, hingga tokoh agama dan masyarakat setempat. Semuanya larut dalam kemeriahan dan semangat pelestarian budaya.
Acara ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Pemdes Randupitu, yang menggerakkan seluruh elemen desa mulai dari lembaga desa, perangkat, karang taruna hingga KIM GEMPAR.


