Kabarjatim.id | Probolinggo  – Dalam menyongsong Konferensi Cabang XIX PMII Probolinggo, Irfan Baihaqi tampil sebagai figur muda yang membawa warna baru dalam gagasan kaderisasi. Dengan latar belakang hukum dan kompetensi di bidang ekonomi digital, Irfan menawarkan pendekatan segar yang menjawab tantangan zaman.

Mengangkat tema besar penguatan sumber daya kader yang adaptif, Irfan menekankan pentingnya penguasaan dua aspek utama: literasi hukum dan ekonomi kreatif digital. “Sudah waktunya PMII menjadi wadah kaderisasi yang tidak hanya membentuk pemikiran ideologis, tapi juga membekali kader dengan keterampilan nyata untuk hidup mandiri dan berkontribusi pada masyarakat,” ujar Irfan.

Hukum sebagai Pondasi Perubahan Sosial Irfan melihat bahwa pemuda, khususnya kader PMII, memiliki potensi besar menjadi agen transformasi di tengah kompleksitas hukum yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, ia mendorong agar literasi hukum dijadikan bagian integral dalam proses pengkaderan.

“Bukan sekadar paham pasal, tapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai keadilan ke dalam aksi nyata—dari ruang advokasi, edukasi publik, hingga pemberdayaan masyarakat,” jelas Irfan, mahasiswa STIH Zainal Hasan Genggong.

kabarjatim

Melalui pelatihan hukum terapan, Irfan berharap PMII bisa melahirkan kader-kader yang siap menjadi penyambung lidah rakyat dalam berbagai persoalan hukum, khususnya di akar rumput.

Ekonomi Digital: Wajah Baru Kemandirian Kader Melengkapi gagasan tersebut, Irfan juga membawa semangat kewirausahaan digital sebagai solusi konkrit untuk menjawab tantangan ekonomi kader. Menurutnya, dunia digital bukan sekadar tren, melainkan peluang besar untuk membangun kemandirian kader berbasis komunitas.

“Banyak kader kita yang kreatif, tapi kurang mendapat ruang dan akses. PMII harus hadir sebagai ekosistem yang mendorong tumbuhnya bisnis digital, dari pelatihan konten kreatif hingga manajemen usaha berbasis platform online,” tegasnya.

Irfan juga menggagas program inkubasi kader ekonomi digital, di mana anggota PMII akan dibina secara sistematis untuk mengelola usaha daring, membangun branding lokal, dan memahami keuangan digital.

PMII Sebagai Ruang Tumbuh yang Inklusif dan Modern

Menutup pemaparan visinya, Irfan menegaskan pentingnya membangun PMII sebagai organisasi yang tidak hanya kuat dalam struktur, tapi juga dinamis dan inklusif dalam budaya. “Era ini menuntut PMII menjadi ruang yang terbuka, profesional, dan progresif. Kaderisasi harus punya arah yang jelas, terukur, dan relevan dengan realitas zaman,” katanya.

Dengan mengusung semangat perubahan dan pendekatan berbasis kebutuhan riil kader, Irfan Baihaqi menempatkan dirinya bukan sekadar sebagai calon ketua, tetapi sebagai representasi semangat baru di tubuh PMII Probolinggo—yang siap menjadi lokomotif intelektual sekaligus motor ekonomi digital pemuda di daerahnya.