Kabarjatim.id | Ngawi — Siang itu di Mall Pelayanan Publik Kabupaten Ngawi, suasana tak seperti biasanya. Beberapa mahasiswa dengan jas almamater tampak berdiskusi hangat bersama petugas Kementerian Agama. Bukan tanpa alasan, mereka tengah menyiapkan sesuatu yang sederhana namun berdampak besar: mengawal pelaku UMKM di Desa Cantel menuju legalitas usaha yang lebih kuat melalui sertifikasi halal.

Para mahasiswa tersebut merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI). Dalam program pengabdian mereka, legalitas usaha menjadi salah satu isu penting yang ingin mereka angkat. Salah satunya adalah soal bagaimana pelaku UMKM desa bisa mendapatkan sertifikasi halal yang kini menjadi nilai tambah penting dalam pemasaran produk.

Langkah awal dimulai dari kunjungan ke Kementerian Agama, tempat mereka berdiskusi langsung dengan Rias Sri Uji Wati, S.Th.I., seorang narasumber yang tak hanya memberi informasi, tapi juga membuka perspektif baru bagi para mahasiswa.

“NIB itu layaknya KTP untuk usaha,” ujar Rias menjelaskan dengan sabar. “Tanpa NIB, usaha tidak bisa diakui secara resmi, apalagi mendapatkan sertifikasi halal.” Penjelasan itu langsung membuka pemahaman baru bagi para mahasiswa—bahwa sebelum berbicara tentang halal, ada fondasi legalitas yang harus dibangun lebih dulu.

kabarjatim

Dari diskusi inilah, para mahasiswa kemudian menyusun rencana pendampingan. Mereka tak hanya ingin menjadi penghubung informasi, tapi juga pendamping lapangan yang aktif membantu UMKM di desa mereka mengurus NIB dan mengajukan sertifikasi halal.

“Banyak pelaku UMKM yang belum tahu caranya, atau menganggap prosesnya sulit. Padahal, kalau dipandu, itu bisa dilalui dengan lancar,” ujar Rosyfiana.

Kini, usai kunjungan dan konsultasi tersebut, mahasiswa KKN UNUGIRI mulai bergerak ke tahap aksi. Mereka menjadwalkan pendampingan langsung kepada para pelaku usaha di Desa Cantel—membantu membuat NIB, mempersiapkan berkas, hingga menjelaskan manfaat dari sertifikasi halal dalam jangka panjang.

Apa yang mereka lakukan mungkin terlihat kecil. Tapi di balik diskusi sederhana itu, tersimpan semangat besar untuk membangun UMKM desa yang lebih berdaya dan dipercaya.

Dan begitulah, dari satu diskusi ringan, lahir satu aksi nyata. Sebuah pengabdian yang tak hanya berhenti di kata-kata.