KABARJATIM – Rencana pengoperasian Bus Trans Jatim Koridor 2 dengan lintasan Terminal Talangagung, Kepanjen, Terminal Hamid Rusdi hingga Terminal Arjosari memicu penolakan dari kalangan sopir angkutan kota (angkot) di Kota Malang. Aspirasi tersebut disampaikan langsung kepada Komisi C DPRD Kota Malang dalam audiensi yang digelar di gedung dewan, Kamis (16/7/2026).
Puluhan sopir angkot dari berbagai paguyuban hadir menyampaikan keberatan mereka. Mereka menilai jalur yang disiapkan untuk Trans Jatim Koridor 2 akan beririsan dengan trayek angkot yang telah melayani masyarakat selama puluhan tahun. Kondisi itu dikhawatirkan semakin menekan keberlangsungan usaha para sopir.
Ketua Aliansi Sopir Angkot Kota Malang (ASAM), Bambang Kurniawan, mengatakan pihaknya menolak rencana tersebut karena berpotensi mengurangi pendapatan angkutan kota. Menurutnya, angkot saat ini sudah menghadapi tantangan besar akibat hadirnya transportasi berbasis aplikasi dan operasional Trans Jatim Koridor 1.
“Rute yang direncanakan sangat bersinggungan dengan trayek angkot kami. Tentu ini akan sangat merugikan angkutan kota. Kami juga tidak ingin kondisi ini memicu perpecahan di kalangan pelaku transportasi di Kota Malang,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh paguyuban yang hadir dalam audiensi memiliki sikap yang sama, yakni meminta agar rencana pengoperasian Koridor 2 dikaji kembali. Harapannya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat mendengar aspirasi para sopir sebelum kebijakan tersebut dijalankan.

Menanggapi aspirasi tersebut, Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, M Anas Muttaqin, memastikan seluruh masukan dari para sopir akan diteruskan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai pihak yang memiliki kewenangan terhadap program Trans Jatim.
Menurut Anas, proses penyusunan kebijakan transportasi publik seharusnya melibatkan seluruh paguyuban angkot agar tidak muncul kesalahpahaman maupun pihak yang merasa dirugikan.
Ia juga berpandangan bahwa pengembangan Trans Jatim semestinya diarahkan untuk membangun sistem transportasi yang saling terhubung. Karena itu, keberadaan bus Trans Jatim sebaiknya diintegrasikan dengan layanan angkot, bukan menjadi moda yang saling bersaing memperebutkan penumpang.
Dalam audiensi tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menyebut penolakan dari para sopir merupakan dinamika yang lazim terjadi ketika ada perubahan dalam sistem transportasi publik. Namun, ia menilai komunikasi yang intensif menjadi kunci agar proses pembenahan transportasi dapat diterima semua pihak.
Widjaja juga mengingatkan bahwa Pemerintah Kota Malang telah memberikan dukungan kepada angkutan kota melalui program subsidi angkot gratis bagi pelajar setelah beroperasinya Trans Jatim Koridor 1. Langkah tersebut, menurutnya, merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah agar angkot tetap memiliki ruang dalam sistem transportasi perkotaan.
Sebagai informasi, Trans Jatim Koridor 1 saat ini telah melayani rute Terminal Hamid Rusdi hingga Terminal Kota Batu. Sementara itu, Koridor 2 tengah direncanakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan lintasan Terminal Talangagung, Terminal Hamid Rusdi, dan Terminal Arjosari.


