KabarJatim.ID | TUBAN,–Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI) Tuban sukses menggelar rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai 5 hingga 7 September 2026. Agenda tahunan ini dirancang bukan sekadar sebagai seremoni penyambutan rutin, melainkan sebagai fondasi strategis bagi mahasiswa baru untuk menginternalisasi budaya akademik, membedah tanggung jawab intelektual, serta memetakan arah masa depan di tengah dinamika global yang kian kompleks.

Kegiatan yang dipusatkan di kampus UAI Tuban ini menjadi ruang dialektika yang mempertemukan teori akademik dengan realitas praktis melalui kehadiran tokoh-tokoh inspiratif nasional. Tercatat, sejumlah nama besar hadir sebagai pemateri kunci, di antaranya Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dr. Lia Istifhama, eks Direktur Utama PT Semen Gresik periode 2023-2025 Moch. Supriyadi, S.E., serta jajaran rektorat yang dipimpin oleh Rektor UAI Tuban Dr. Laily Hidayati dan Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Dr. Muhammad Aziz.

Salah satu sorotan utama dalam PBAK 2026 adalah paparan kritis dari Senator DPD RI, Dr. Lia Istifhama, yang mengusung tema “Meritokrasi sebagai Pilar Kampus Berdampak dan Berdaya Saing Global”. Dalam orasinya di hadapan ratusan mahasiswa baru pada Sabtu (5/9/2026), perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini menekankan bahwa kampus harus menjadi laboratorium meritokrasi, di mana prestasi dan kemampuan menjadi tolok ukur utama dalam meraih peluang, bukan sekadar relasi atau privilese semata.

Ning Lia secara lugas mendorong Generasi Z (Gen Z) untuk membuang jauh sikap apatis atau “alergi” terhadap politik. Menurutnya, kesadaran politik adalah perangkat penting bagi mahasiswa agar arah kebijakan masa depan bangsa tidak terlepas dari tangan generasi muda lokal. Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus berani menyuarakan aspirasi secara kritis dan konstruktif, namun tetap menjaga muruah identitas bangsa dengan mengedepankan nilai-nilai kesantunan dalam setiap pergerakannya.

kabarjatim

Lebih lanjut, politikus asal Surabaya tersebut memberikan pesan filosofis yang membekas bagi para peserta mengenai hakikat kepemimpinan di era modern. Ia menyatakan bahwa esensi seorang pemimpin terletak pada tindakan nyata dan kontribusi positif yang diberikan kepada lingkungan, bukan pada jabatan formal yang melekat pada nama. “Jadilah pribadi yang terus berperan dan berkontribusi, jangan sampai menjadi pribadi yang mudah terbawa perasaan atau baperan dalam menghadapi tantangan,” tegas Ning Lia yang disambut riuh antusiasme mahasiswa.

Sisi profesionalisme dan kesiapan industri dibedah secara mendalam oleh Moch. Supriyadi, S.E., profesional senior yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Semen Gresik. Dalam materinya yang bertajuk “Dari Kampus Menuju Dunia Profesional: Kompetensi yang Dibutuhkan di Masa Depan”, Supriyadi memberikan perspektif mengenai jurang pemisah (gap) yang sering terjadi antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri BUMN maupun swasta.

Ia menekankan bahwa keberhasilan seorang mahasiswa di masa depan tidak hanya ditentukan oleh indeks prestasi kumulatif (IPK), tetapi juga oleh penguasaan kompetensi adaptif. Menurut Supriyadi, dunia profesional saat ini menuntut individu yang memiliki kedisiplinan tinggi, kemampuan memecahkan masalah (problem solving), serta ketangguhan mental dalam menghadapi disrupsi teknologi. Mahasiswa diminta mulai membangun portofolio keterampilan sejak dini agar memiliki nilai tawar yang kompetitif saat memasuki pasar kerja global.

Rektor UAI Tuban, Dr. Laily Hidayati, dalam pidatonya turut mempertegas pentingnya sikap proaktif bagi mahasiswa selama menempuh studi di kampus. Beliau mengingatkan bahwa universitas adalah ekosistem terbuka yang menyediakan berbagai fasilitas pengembangan diri, namun manfaatnya hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki inisiatif. Mahasiswa diharapkan tidak menjadi sosok pasif yang hanya menunggu instruksi, melainkan menjadi pembelajar mandiri yang eksploratif terhadap ilmu pengetahuan baru.

Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kelembagaan, Inovasi, dan Kerja Sama, Dr. Muhammad Aziz, menyampaikan pesan khusus mengenai momentum PBAK sebagai masa transisi yang krusial. Baginya, perpindahan dari bangku sekolah menuju perguruan tinggi memerlukan kesiapan mental dan administratif yang matang. Mahasiswa baru harus segera meninggalkan pola pikir lama dan beralih ke pola pikir akademik yang mengedepankan logika, riset, serta tanggung jawab sosial sebagai bagian dari civitas academica.

Dr. Aziz juga menggarisbawahi bahwa kesiapan mahasiswa mencakup kemampuan beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang lebih mandiri dan kompleks di tingkat universitas. Disiplin dalam mengikuti rangkaian akademik bukan sekadar soal menaati aturan, melainkan bentuk penghormatan terhadap proses intelektual itu sendiri. Ia berharap para mahasiswa baru mampu mengambil nilai-nilai fundamental dari setiap pemateri untuk dijadikan bekal menjalani kehidupan kampus selama empat tahun ke depan.

Pelaksanaan PBAK 2026 ini juga menjadi cerminan dari komitmen Universitas Al-Hikmah Indonesia dalam membangun integritas mahasiswa sejak hari pertama. Setiap sesi dirancang untuk memperkenalkan ketentuan universitas sekaligus mengasah kepekaan sosial peserta. Hal ini dilakukan agar mahasiswa tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berintegritas dalam menjaga nama baik institusi di tengah masyarakat.

Secara subtansial, rangkaian kegiatan ini mengarahkan mahasiswa untuk memahami bahwa menjadi bagian dari UAI Tuban berarti memikul tanggung jawab sebagai agen perubahan. Mahasiswa baru diajak untuk melihat tantangan pendidikan tinggi bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang strategis untuk membentuk identitas diri. Pengenalan budaya akademik ini pun menjadi pintu gerbang bagi mereka untuk mulai berkontribusi secara nyata bagi daerah, khususnya Kabupaten Tuban.

Dalam konteks yang lebih luas, PBAK 2026 menekankan bahwa masa depan pendidikan tinggi Indonesia bergantung pada sinergi antara nilai-nilai lokal dan visi global. Dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari senator hingga praktisi industri, UAI ingin menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan harus bersifat multidisipliner. Hal ini diharapkan mampu membuka cakrawala mahasiswa agar memiliki pandangan yang inklusif dan tidak eksklusif dalam belajar.

Dinamika yang terbangun selama tiga hari tersebut memperlihatkan betapa pentingnya penguatan mentalitas bagi para pendatang baru di dunia kampus. Transisi administratif seringkali mudah dilalui, namun transisi mental dan budaya akademik membutuhkan bimbingan yang konsisten. Oleh karena itu, keterlibatan jajaran Dekan, Kaprodi, dan Panitia PBAK menjadi krusial dalam memastikan pesan-pesan substantif dari para pemateri tersampaikan dengan efektif kepada seluruh peserta.

Universitas Al-Hikmah Indonesia melalui kegiatan ini membuktikan diri sebagai institusi yang berorientasi pada proses pertumbuhan mahasiswa secara utuh. Fokus kegiatan yang beralih dari sekadar seremonial menuju penguatan substansi materi diharapkan dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap berkarya. Integritas dan kompetensi menjadi dua kata kunci yang terus digaungkan sepanjang pelaksanaan kegiatan pengenalan kampus tersebut.

Harapannya, melalui pembekalan yang komprehensif ini, mahasiswa baru PBAK 2026 dapat menjalani rangkaian pendidikan dengan lebih tertib, aktif, dan penuh tanggung jawab. Mereka didorong untuk mulai membentuk identitas diri sebagai keluarga besar Universitas Al-Hikmah Indonesia yang adaptif terhadap perubahan zaman. Kehadiran tokoh-tokoh nasional dalam acara ini menjadi bukti bahwa UAI Tuban serius dalam mencetak kader bangsa yang mampu bersaing di level internasional.

Sebagai penutup, PBAK UAI 2026 sukses menjadi titik awal yang transformatif bagi para mahasiswa. Dengan pemahaman yang mendalam mengenai meritokrasi, kesiapan profesional, dan budaya akademik yang proaktif, mahasiswa baru kini memiliki peta jalan yang jelas untuk menempuh studi mereka. Langkah awal ini diharapkan menjadi pintu menuju masa depan di mana mahasiswa UAI mampu tumbuh menjadi pribadi yang berdaya saing, santun dalam berpolitik, dan unggul dalam dunia kerja global.