Kabarjatim.id | Pasuruan -Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Kabupaten Pasuruan memberikan penjelasan terkait pelaksanaan kegiatan peningkatan kompetensi kepala madrasah yang digelar selama dua hari, pada 29–30 September 2026 di Hotel Grand Whiz Trawas.

Ketua KKM MI Kabupaten Pasuruan, Hariono menegaskan, kegiatan tersebut merupakan wadah peningkatan kompetensi bagi para kepala madrasah dan telah mendapatkan persetujuan dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pasuruan.

“kegiatan ini juga dapat persetujuan dari kantor kementerian agama kabupaten Pasuruan, jadi kami hanya mewadahi memberikan wadah bagi teman-teman dalam rangka peningkatan kompetensi kepala madrasah,” jelasnya.

Ia menjelaskan, pembiayaan kegiatan tersebut berasal dari kontribusi secara mandiri dari para kepala madrasah yang mengikuti kegiatan. Menurutnya, pembiayaan tidak berasal dari sumber lain di luar kegiatan tersebut.

kabarjatim

“Pembiayaan ini murni mandiri, bukan diambilkan dari yang lainnya. Jadi kepala madrasah memberikan distribusi untuk mengadakan kegiatan ini, termasuk kami juga panitia-panitia, saya sebagai ketua panitia juga sama dengan teman-teman memberikan kontribusi,” ungkapnya.

Penjelasan mengenai pembiayaan tersebut disampaikan menyusul adanya perhatian terhadap angka biaya sebesar Rp6,5 juta. Ketua KKM Kabupaten Pasuruan mengatakan, nominal tersebut perlu dilihat berdasarkan keseluruhan fasilitas yang diterima peserta selama kegiatan berlangsung.

“Kalau lihat memang besar, tapi kalau dilihat rincian memang wajar. Kita bisa bayangkan bahwa uang itu pergunakan yang pertama untuk hotel dua hari, kemudian kita berikan fasilitas makan tiga kali, kemudian kita berikan coffee break sebanyak dua kali,” katanya.

Selain penginapan dan konsumsi, kegiatan tersebut juga menghadirkan fasilitator dari Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Peserta juga memperoleh sejumlah fasilitas pendukung kegiatan.

“Di samping itu juga kita adakan kegiatan seperti senam dan yang lainnya. Yang lebih dari itu juga seluruh peserta nanti akan kita berikan jasket atau jaket almamater,” jelasnya.

Terkait jaket almamater, ia menjelaskan bahwa pembagian belum dilakukan lantaran proses pemesanan masih berlangsung. Sementara itu, rencana kegiatan beserta anggaran telah disampaikan kepada seluruh ketua KKM kecamatan se-Kabupaten Pasuruan.

Pembahasan mengenai Rencana Anggaran Biaya (RAB), kata dia, juga telah dilakukan bersama para ketua KKM kecamatan.

“Rencana anggaran biaya atau RAB-nya itu sudah kami sampaikan beberapa waktu yang lalu, insyaallah sampai dengan tiga kali kita membahas di ketua KKM-nya,” terangnya.

Dari sekitar 304 madrasah yang menjadi sasaran kegiatan, tercatat sebanyak 270 kepala madrasah mendaftar dan mengikuti kegiatan. Sedangkan 34 kepala madrasah lainnya tidak hadir.

“Ini terbukti dengan pendaftaran kemarin itu dari 304 madrasah ada 270 yang daftar dan ikut kegiatan. Yang hadir itu 270, tidak hadir 34,” katanya.

Mengenai pemilihan Hotel Grand Whiz Trawas, Ketua KKM Kabupaten Pasuruan mengatakan bahwa panitia telah melakukan pencarian dan peninjauan terhadap sejumlah lokasi sebelum menentukan tempat kegiatan.

Pertimbangan tersebut meliputi kapasitas aula, ketersediaan kamar, serta biaya yang harus disesuaikan dengan jumlah peserta.

“Jadi mengapa kita kok harus ke Grand Whiz karena kita sudah keliling cari yang paling murah dan terfasilitasi untuk kapasitas 270, 304 awalnya. Di Trawas itu nggak ada yang mampu segitu, aula maupun kamar,” jelasnya.

Setelah melakukan pencarian terhadap sejumlah alternatif lokasi, Grand Whiz Trawas akhirnya dipilih sebagai tempat pelaksanaan kegiatan.

“Sehingga di Grand Whiz itu alternatif terakhir dan itu yang paling memungkinkan, paling ekonomis. Sehingga teman-teman itu terfasilitasi dengan angka segitu,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pembagian kamar dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi anggaran. Tidak seluruh kamar dapat diisi dengan jumlah peserta yang sama karena keterbatasan ketersediaan kamar.

“Pokoknya anggaran ini cukup, yang penting cukup. Akhirnya karena kamarnya yang isi empat terbatas, akhirnya beberapa kamar itu ada yang isi tiga, isi dua. Jadi kita tetap mempertimbangkan sisi ekonomis dalam rangka teman-teman ini terfasilitasi,” jelasnya.

Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan tersebut pada prinsipnya diarahkan agar para kepala madrasah mendapatkan fasilitas yang menunjang kegiatan, termasuk penginapan dan atribut almamater.

“Prinsip utamanya artinya terfasilitasi di hotel, terfasilitasi untuk almamaternya ini. Karena bagaimanapun kalau kepala madrasah swasta ataupun madrasah ketika sudah di rumah punya almamater setingkat kabupaten itu kebanggaan,” pungkasnya.