Kabarjatim.id | Jakarta — Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 menjadi momentum reflektif bagi bangsa untuk menakar ulang arah perjuangan generasi muda di tengah perubahan besar yang sedang terjadi. Bagi Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Dra. Hj. Anisah Syakur, M.Ag, Sumpah Pemuda bukan hanya catatan sejarah, tetapi api yang harus terus dijaga agar semangat kebangsaan tidak padam di tengah derasnya arus modernitas dan globalisasi.

Dalam pernyataannya, Anisah Syakur menegaskan bahwa pemuda hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. “Kalau dulu tantangannya adalah penjajahan fisik, maka hari ini tantangannya adalah penjajahan pikiran dan nilai. Banyak anak muda terjebak pada gemerlap dunia digital, tapi kehilangan arah moral dan jati diri kebangsaan,” ujarnya.

Menurutnya, nilai Sumpah Pemuda 1928 lahir dari semangat keberanian moral untuk menolak perpecahan dan membangun persatuan. Kini, semangat itu harus diterjemahkan dalam konteks zaman yang serba cepat dan seringkali menyesatkan arah perjuangan kaum muda.

“Pemuda hari ini harus menjadi penyalur nilai, bukan penonton zaman. Mereka harus berani mengisi kemerdekaan dengan integritas, bukan sekadar popularitas,” tegasnya.

kabarjatim

Anisah Syakur menyoroti bagaimana derasnya arus media sosial kerap memunculkan generasi yang aktif secara digital, tetapi pasif secara sosial. “Kita tidak bisa membiarkan anak muda menjadi generasi yang kehilangan empati. Sumpah Pemuda bukan hanya soal kebangsaan dalam kata, tapi juga dalam tindakan. Bagaimana kita saling menghormati, saling menolong, dan saling menjaga keutuhan bangsa,” ujarnya dengan nada tegas.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa peran pemuda hari ini tidak hanya terletak pada kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, tetapi juga pada kemampuan menjaga nilai kemanusiaan dan moralitas di tengah dunia yang semakin mekanis.

“Kemajuan teknologi tanpa nilai kemanusiaan hanya akan melahirkan kekosongan makna. Karena itu, pemuda Indonesia harus menjadi jembatan antara kemajuan dan kearifan,” katanya.

Anisah juga menyinggung pentingnya pendidikan karakter dan peran keluarga dalam membentuk generasi muda yang tangguh. Menurutnya, revolusi digital harus diimbangi dengan revolusi moral. “Kita tidak bisa berharap lahirnya generasi emas dari sistem pendidikan yang hanya menilai dari angka dan ijazah. Pendidikan harus kembali menumbuhkan kesadaran sosial dan tanggung jawab kebangsaan,” tambahnya.

Sebagai anggota DPR RI yang juga berlatar belakang pesantren, Anisah Syakur menekankan bahwa semangat keislaman dan kebangsaan harus terus berjalan beriringan. “Nilai-nilai Islam mengajarkan kita untuk cinta tanah air, membela keadilan, dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Itulah semangat Sumpah Pemuda yang sebenarnya,” tuturnya.

Menutup pernyataannya, Anisah Syakur menyerukan agar peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi dijadikan sebagai titik tolak kebangkitan moral dan politik kaum muda.

“Bangsa ini menunggu keberanian generasi muda untuk tidak hanya bermimpi, tetapi bertindak. Sumpah Pemuda adalah panggilan sejarah  panggilan untuk bergerak, memperbaiki, dan menjaga Indonesia agar tetap tegak dalam keadilan dan persaudaraan,” pungkasnya.