Kabarjatim.id | Jakarta — Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) Komisi XIII, Dra. Hj. Anisah Syakur, M.Ag, menegaskan bahwa penetapan almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan (Mbah Kholil) sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2025 merupakan tonggak penting pengakuan negara terhadap peran besar para ulama dalam perjuangan bangsa.
Menurut Anisah Syakur, langkah pemerintah memberikan gelar pahlawan kepada dua tokoh besar asal Jawa Timur itu bukan sekadar simbol penghormatan, tetapi juga bentuk pengakuan atas perjuangan politik, pendidikan Islam, dan kemanusiaan yang telah diwariskan kepada bangsa Indonesia.
“Gelar pahlawan untuk Gus Dur dan Mbah Kholil adalah penegasan bahwa perjuangan ulama bukan hanya di bidang spiritual, tetapi juga dalam memperjuangkan demokrasi, keadilan sosial, dan kemanusiaan. Mereka adalah simbol keberanian melawan ketidakadilan dengan cara-cara yang beradab dan berilmu,” tegas Dra. Hj. Anisah Syakur, M.Ag, dalam keterangannya, Senin (10/11/2025).
Anisah menilai, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah tokoh bangsa yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia. Sebagai ulama sekaligus negarawan, Gus Dur tidak hanya memimpin secara moral dan spiritual, tetapi juga membuka ruang kebangsaan yang lebih inklusif bagi seluruh warga negara tanpa memandang latar belakang agama, etnis, maupun keyakinan.
Sementara itu, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dikenal sebagai ulama karismatik dan pendidik besar yang menempuh jalur pendidikan kultural, sosial, dan keagamaan. Melalui ajaran dan pesantrennya, Mbah Kholil melahirkan generasi ulama dan pejuang yang kemudian berperan penting dalam membangun fondasi Islam moderat di Nusantara.
“Keduanya adalah pahlawan dalam makna yang utuh. Gus Dur dengan perjuangan politik dan nilai kemanusiaannya, Mbah Kholil dengan perjuangan pendidikan Islam yang melahirkan generasi ulama pembaharu. Negara akhirnya menegaskan bahwa perjuangan di jalur moral dan keilmuan adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah kemerdekaan,” lanjut Anisah.
PKB, tambahnya, sejak lama memperjuangkan agar Gus Dur dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, bahkan sejak sebelum pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menetapkannya secara resmi. Menurut Anisah, langkah Presiden Prabowo menunjukkan kepekaan terhadap aspirasi umat dan bangsa, khususnya terhadap nilai-nilai kebangsaan yang diperjuangkan Gus Dur dan para ulama pesantren.
“Kami mengapresiasi langkah Presiden Prabowo yang mendengar suara umat dan masyarakat pesantren. Ini bukan hanya penghargaan kepada pribadi Gus Dur dan Mbah Kholil, tetapi pengakuan terhadap kontribusi pesantren sebagai benteng moral bangsa,” ujar Anisah Syakur.
Namun, di tengah rasa syukur atas penghargaan kepada Gus Dur dan Mbah Kholil, Anisah juga menyampaikan kesedihan mendalam karena masih ada ulama besar yang belum mendapat pengakuan serupa dari negara.
“Saya jujur merasa sedih dan kehilangan makna penuh di Hari Pahlawan ini, karena sampai hari ini K.H. Bisri Syamsuri ulama besar yang berjuang dengan jiwa dan raga untuk kemerdekaan dan pendidikan Islam belum juga diberi gelar Pahlawan Nasional. Padahal jasa dan perjuangan mereka nyata, diwariskan dari pesantren ke masyarakat, dari generasi ke generasi. Negara seolah masih menunda penghormatan bagi mereka,” ungkap Anisah dengan nada haru.
Sebagai anggota Komisi XIII DPR RI yang juga aktif memperjuangkan isu-isu pendidikan dan kesejahteraan sosial, Anisah menilai momentum Hari Pahlawan 2025 ini harus dijadikan refleksi nasional untuk meneguhkan kembali nilai-nilai perjuangan ulama dan santri dalam membangun Indonesia yang berkeadilan dan beradab.
“Sudah saatnya kita meneladani cara berpikir dan cara berjuang para ulama besar itu. Mereka tidak mencari kekuasaan, tapi menegakkan nilai. Gus Dur mengajarkan keberanian untuk berpihak pada yang lemah, Mbah Kholil mengajarkan pentingnya ilmu dan adab sebagai dasar perjuangan. Dan KH. Syamsuri serta KH. Bisri Syamsuri mengajarkan arti keikhlasan berjuang tanpa pamrih meski belum diakui negara, mereka pahlawan sejati di hati umat,” pungkasnya dengan tegas.


