Kabarjatim.id | Surabaya -Aktivis dan sutradara Dandhy Laksono melontarkan kritik keras terhadap keputusan pemerintah yang menetapkan Presiden ke-2 RI, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional. Dalam unggahan di akun Instagram-nya, Dandhy menilai keputusan itu tidak hanya ahistoris, tapi juga mencerminkan logika yang ia sebut “psikopat”.
“Kepahlawanan Marsinah memperjuangkan hak-hak buruh di era rezim otoriter militeristik Soeharto,” tulis Dandhy dalam unggahannya, Kepahlawanan Gus Dur, mengambil keputusan politik demiliterisasi Aceh, Papua, dan penghapusan diskriminasi minoritas warisan rezim Soeharto. Lalu Soeharto pahlawan. Logika psikopat,” Rabu (12/11).
Unggahan tersebut disertai dua foto hitam putih Marsinah, buruh pabrik yang dibunuh pada 1993 karena memperjuangkan keadilan bagi sesama pekerja; dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden keempat RI yang dikenal mengambil langkah-langkah berani membongkar warisan represif Orde Baru.
Pernyataan Dandhy ini muncul di tengah perdebatan publik tentang pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto sosok yang memimpin Indonesia selama 32 tahun dengan kekuasaan militeristik dan kontrol politik yang ketat. Di masa pemerintahannya, berbagai pelanggaran HAM, pembungkaman pers, hingga pembatasan kebebasan politik menjadi catatan kelam sejarah.
Bagi Dandhy, ironi terbesar terletak pada cara negara memaknai “kepahlawanan”. Ia menyindir bahwa mereka yang dulu menjadi korban dan penentang kebijakan otoriter kini disandingkan dengan sang penguasa sebagai pahlawan bangsa.
Unggahan Dandhy dengan tagar #SoehartoBukanPahlawan itu langsung memicu gelombang dukungan dari warganet. Banyak yang menganggap pernyataannya mewakili kegelisahan publik terhadap upaya melunakkan memori sejarah Orde Baru.
Sebagian pengguna media sosial menyebut langkah pemerintah sebagai “rekonsiliasi yang kehilangan nurani”. Sementara lainnya menilai, negara seolah berusaha menulis ulang sejarah dengan menutup mata pada penderitaan korban represi selama lebih dari tiga dekade kekuasaan Soeharto.
“Ketika pelaku dan korban disejajarkan, bangsa ini kehilangan kompas moral,” tulis salah satu komentar di unggahan Dandhy itu.


