Kabarjatim.id | Pasuruan — Upaya mempertahankan keberadaan sapi Grati terus didorong sebagai bagian dari penguatan sumber daya genetika ternak asli Indonesia. Ketua Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Evi Zainal Abidin, menegaskan pentingnya menjaga keberadaan sapi Grati. Sapi ini merupakan sumber daya genetika sapi perah asli Indonesia yang dipelihara turun-temurun di wilayah Pasuruan.
Budidaya sapi Grati telah berlangsung lebih dari satu abad dan menjadi bagian tradisi peternakan masyarakat setempat. Genetika lokal ini dinilai strategis karena mampu beradaptasi dengan kondisi dataran rendah.
Evi menyampaikan, keberadaan sapi Grati tidak semata-mata berkaitan dengan produksi susu. Lebih dari itu, sapi Grati adalah sumber daya genetik ternak Indonesia yang perlu dipertahankan dan dikembangkan.
“Budidaya sapi Grati telah dilakukan secara turun-temurun lebih dari satu abad. Upaya pemuliaan-nya juga perna dilakukan dimasa Pemerintahan Bapak Soeharto yaitu dengan mendatangkan puluhan ribu sapi FH impor, serta membangun fasilitas “Village Breeding” di peternakan KUTT Suka Makmur bekerjasama dengan JICA. Karena itu, keberadaannya perlu dijaga dan dikembangkan, utamanya Bapak Prabowo memiliki keterpihakan yang sangat besar pada upaya eksplorasi biodiversitas Indonesia,” jelas Evi.
Menurutnya, sapi perah yang telah beradaptasi dengan lingkungan setempat menjadi modal penting bagi keberlanjutan peternakan rakyat. Pengalaman panjang peternak dalam memelihara sapi Grati juga menjadi pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sumber daya genetika ini dinilai dapat menjadi salah satu tumpuan penyediaan bibit sapi perah, terutama untuk pengembangan peternakan di wilayah dataran rendah.
Di sisi lain, keberadaan sapi Grati juga berkaitan dengan kebijakan penyediaan susu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Mas Dar, menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib menggunakan susu segar dari peternak lokal.
Kebijakan itu menjadi jawaban atas keluhan peternak sapi perah, termasuk yang disampaikan dalam Rembug Paripurna Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Sabtu (19/9/2026). Dalam forum tersebut, peternak menyuarakan kebutuhan penambahan bibit sapi perah.
Kebijakan Mas Dar ini sejalan dengan upaya Evi Zainal Abidin dan KUTT Suka Makmur dalam menjaga genetika sapi Grati. Dengan kewajiban penggunaan susu segar lokal, kebutuhan pasokan susu dari peternak rakyat dipastikan meningkat.
Kondisi itu membuka peluang besar bagi pengembangan sapi Grati sebagai salah satu tumpuan bibit sapi perah dataran rendah. Permintaan susu segar yang stabil akan mendorong peternak menambah populasi sapi perah lokal.
Evi menilai dukungan pemerintah sangat diperlukan agar upaya pelestarian memiliki kekuatan dan arah pengembangan yang jelas. Kehadiran pemerintah melalui Komisi IV DPR RI dinilai dapat memperkuat posisi sapi Grati sebagai sumber daya genetik peternakan Indonesia.
Dengan sinergi antara peternak, koperasi, pemerintah daerah, pemerintah pusat, Komisi IV DPR RI, serta kebijakan BGN di bawah Mas Dar, pelestarian sapi Grati diharapkan tidak berhenti pada upaya mempertahankan populasi. Pengembangan ke depan dapat diarahkan pada strategi penguatan peternakan rakyat, peningkatan produktivitas, sekaligus menjadi pusat pembibitan dan penelitian sapi perah dataran rendah.
Bagi KUTT Suka Makmur, sapi Grati bukan hanya bagian dari aktivitas peternakan. Ia adalah warisan genetika, serta budaya dan kultur peternak yang perlu dijaga agar tetap lestari.


