KabarJatim.ID | TUBAN – Aura kebahagiaan yang berbalut kekhidmatan menyelimuti Aula Lantai 3 Kampus A Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI) Tuban pada Sabtu pagi (08/08/2026). Sejak pukul 09.00 WIB, ruangan yang menjadi saksi bisu perjuangan akademik itu dipenuhi oleh para yudisiawan yang tampil berseri-seri dengan busana terbaik mereka. Prosesi Yudisium Sarjana (S1) dan Magister (S2) ini bukan sekadar rutinitas birokrasi kampus, melainkan sebuah ritual sakral pengukuhan identitas baru bagi 111 lulusan sebagai intelektual yang membawa marwah pesantren ke kancah dunia.
Acara dibuka dengan prosesi senat yang dipimpin oleh jajaran petinggi universitas, menciptakan suasana teatrikal akademik yang sangat menyentuh. Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kelembagaan, Inovasi, dan Kerjasama, Dr. Muhammad Aziz, hadir memberikan orasi utama mewakili Rektor UAI, Dr. Laily Hidayati, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Dalam sambutan yang penuh emosional, Dr. Aziz menyebut momen ini sebagai hari “pembuktian” bagi para “mujahid intelektual” yang telah berhasil menaklukkan tumpukan tugas dan ujian melalui sujud-sujud panjang di sepertiga malam serta kerja keras yang tak kenal lelah.
Dr. Aziz menggetarkan panggung yudisium dengan menegaskan bahwa gelar yang diraih para lulusan adalah simbol kemenangan spiritual sekaligus intelektual. Ia mengingatkan bahwa bagi alumni UAI, yudisium bukanlah garis akhir, melainkan pintu gerbang menuju laboratorium kehidupan yang penuh tantangan. Di hadapan ratusan pasang mata yang berkaca-kaca, ia menekankan bahwa setiap lulusan kini memikul tanggung jawab moral untuk mengamalkan Trilogi Pesantren Al-Hikmah—sebuah kompas hidup yang mengintegrasikan sains, teknologi, dan seni dengan integritas nilai-nilai keislaman yang profesional.
Dalam narasinya yang mendalam, Dr. Aziz membedah tiga pilar filosofis yang harus dijunjung tinggi. Pilar pertama adalah pengokohan iman sebagai jangkar kehidupan. Mengutip Surah Al-Mujadilah ayat 11, ia mengingatkan hadirin bahwa kepintaran tanpa iman hanya akan melahirkan keangkuhan. Seremoni yudisium ini diharapkan menjadi titik balik bagi para Sarjana dan Magister untuk semakin menunduk di hadapan Sang Khalik, mengadopsi filosofi ilmu padi yang semakin berisi semakin merunduk, guna menjaga keseimbangan antara kecemerlangan otak dan kemuliaan hati.
Suasana semakin khidmat saat Dr. Aziz memaparkan pilar kedua mengenai sinergi ilmu dan amal. Ia menyampaikan sebuah pesan kuat bahwa di dunia luar, masyarakat tidak akan menanyakan judul skripsi atau tesis mereka, melainkan aksi nyata yang bisa diberikan. Mengutip kaidah al-‘ilmu bila ‘amalin kasy syajari bila tsamarin, beliau mendorong para alumni untuk menjadi “pohon yang berbuah lebat” bagi lingkungan sekitarnya. Hal ini selaras dengan janji dalam Surah An-Nahl ayat 97 tentang anugerah kehidupan yang baik bagi setiap hamba yang beriman dan beramal saleh.
Semangat patriotisme juga ditiupkan Dr. Aziz sebagai pilar ketiga dalam orasinya. Sebagai institusi yang lahir di “Bumi Wali” Tuban, lulusan UAI didorong untuk menjadi patriot yang solutif bagi problematika bangsa. Integritas mereka akan diuji dalam realitas sosial yang dinamis, di mana kejujuran dan profesionalisme harus menjadi identitas utama. Beliau menginginkan para lulusan UAI menjadi agen perubahan yang mampu menjawab tantangan peradaban dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keindonesiaan yang bermartabat.
Secara khusus, Dr. Aziz memberikan pesan tajam yang ditujukan kepada dua kelompok lulusan. Kepada para sarjana muda (S1), ia berpesan agar tetap memiliki rasa lapar akan ilmu (stay hungry) di tengah era disrupsi yang bergerak secepat kilat. Sementara bagi para lulusan Magister (S2), ia menekankan pentingnya kedalaman analisis dan kematangan emosional sebagai seorang pakar. Sebagai pemimpin di bidangnya, para Magister diharapkan mampu melahirkan pemikiran strategis yang memberikan dampak luas bagi kemajuan masyarakat dan bangsa.
Momen yang menjadi highlight dalam upacara ini adalah saat Dr. Aziz mengupas filosofi gramatika Arab dari kitab Alfiyah Ibnu Malik tentang “Dhamir Na”. Beliau menganalogikan lulusan UAI dengan kata ganti “Na” yang memiliki tingkat adaptabilitas luar biasa. Dalam struktur bahasa Arab, “Na” tetap stabil dan berfungsi sempurna baik dalam posisi rafa’ (mulia), nashab (objek), maupun jar (rendah). Filosofi ini mengajarkan bahwa alumni UAI harus mampu menempatkan diri dengan elegan di mana saja dan dengan siapa saja tanpa kehilangan jati diri keislamannya.
“Gelar akademik mungkin membuka pintu karier, tetapi hanya integritas dan adab yang akan menjaga Anda tetap terhormat di sana,” tegas Dr. Aziz sebagai penutup orasi yang disambut tepuk tangan meriah. Pesan ini menjadi pengingat bahwa di tengah kompetisi global yang dingin, karakter moral tetap menjadi pembeda utama. Beliau mengajak para yudisiawan untuk tidak takut menjadi “kecil” di mata dunia, melainkan takut menjadi kecil di hadapan Allah SWT karena menyia-nyiakan ilmu yang telah dititipkan.
Sisi seremonial semakin kuat dengan hadirnya wejangan dari Ketua Yayasan Al-Hikmah Tuban, K.H. M. Husnan Dhimyati. Beliau mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus istiqomah dalam perjuangan mencetak generasi khaira ummah. Kehadiran Ketua Senat UAI, Dr. H. Muhammad Badar, M.Ag, Rektor UAI, para Wakil Rektor, serta jajaran Dekan dan Kaprodi, memperlihatkan dukungan kolektif institusi yang solid. Kehadiran para pimpinan ini menambah bobot sakral pada prosesi pelantikan para lulusan yang kini resmi menyandang gelar akademik di belakang nama mereka.
Berdasarkan data resmi, Yudisium periode ini merayakan kelulusan 111 mahasiswa yang merupakan representasi dari berbagai keahlian. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan menjadi penyumbang terbesar dengan 61 lulusan, diikuti oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) sebanyak 19 mahasiswa, Program Pascasarjana (S2) sebanyak 16 mahasiswa, dan Fakultas Syariah sebanyak 15 mahasiswa. Diversitas lulusan ini menunjukkan keberhasilan UAI Tuban dalam bertransformasi menjadi universitas yang komprehensif tanpa meninggalkan akar pesantrennya.
Acara yang berakhir tepat pukul 11.30 WIB ini ditutup dengan sesi dokumentasi yang penuh kehangatan di halaman kampus. Para lulusan yang kini dijuluki sebagai “Pendekar Al-Hikmah” itu tampak saling berpelukan dan berfoto bersama sebagai simbol pelepasan menuju medan juang yang baru. Dengan bekal amanat visioner dari Dr. Muhammad Aziz, UAI Tuban melepas para alumninya dengan harapan besar agar mereka mampu menjadi cahaya di tengah kegelapan dan menjadi mata air yang menyegarkan di tengah kemarau panjang bagi bangsa dan dunia.


