Kabarjatim.Id | KUALA LUMPUR, – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI) di Malaysia resmi berakhir pada Jumat (24/7/2026) melalui seremoni penutupan yang haru di Sanggar Bimbingan Sungai Mulia (SBSM), Kuala Lumpur. Namun, di balik hangatnya perpisahan tersebut, kampus asal Tuban, Jawa Timur ini berhasil mengukir capaian akademik luar biasa. UAI menegaskan perannya bukan sekadar pelaksana pengabdian masyarakat rutin, melainkan pionir riset strategis transnasional yang membidik solusi atas isu-isu krusial anak pekerja migran Indonesia (PMI) serta penguatan ekosistem syariah di Asia Tenggara.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) UAI, Dr. Muhammad Aziz, dalam orasi penutupnya menegaskan bahwa kepulangan 7 delegasi mahasiswa UAI bersama para supervisor ke tanah air membawa “harta karun” intelektual yang sangat bernilai. Menurutnya, tata kelola pendidikan anak migran merupakan isu kemanuisan kompleks yang kerap terjebak dalam area abu-abu birokrasi lintas negara. Oleh karena itu, UAI berkomitmen penuh mengawal temuan-temuan lapangan ini hingga mampu menembus jurnal internasional bereputasi, sehingga suara para pekerja migran dan anak-anaknya dapat terdengar di meja kebijakan publik melalui karya ilmiah yang analitikal dan rigorous.

Bobot akademis dari misi pengabdian ini tercermin kuat dari jajaran riset yang diusung oleh para pimpinan delegasi dan supervisor UAI. Assoc. Prof. Dr. Laily Hidayati, M.Psi, Psikolog, meluncurkan kajian bertajuk “Filling the State Vacuum: A Multi-Stakeholder Approach to Alternative Education for Undocumented Children in Malaysia”. Riset ini membedah peran vital pusat bimbingan alternatif dalam mengisi kekosongan kehadiran negara guna menjamin hak dasar pendidikan anak. Penelitian ini menjadi pilar penting dalam memotret kolaborasi dinamis antara masyarakat sipil dan lembaga non-pemerintah guna menyelamatkan anak-anak tanpa dokumen (undocumented) dari ancaman hilangnya masa depan akibat ketiadaan akses sekolah formal.

Sementara itu, dari sudut pandang hukum dan ekonomi syariah, Dr. Muhammad Aziz menghadirkan penelitian strategis bertajuk “Legal Synergy of Indonesia-Malaysia Halal Certification: Analysis of the Principle of Reciprocity from The Perspective of Legal Morality and Development Law Reform”. Kajian ini menyoroti pentingnya keharmonisan hukum dalam standardisasi halal antara Indonesia dan Malaysia melalui pendekatan prinsip resiproksitas. Aziz menegaskan bahwa moralitas hukum dan reformasi hukum pembangunan harus dijadikan fondasi utama agar prosedur sertifikasi halal tidak menjadi hambatan administratif semata, melainkan menjadi motor penggerak ekonomi syariah yang inklusif di kawasan regional.

kabarjatim

Melengkapi trilogi riset supervisor UAI, Assoc. Prof. Hj. Fathonah membawa perspektif filosofis-yuridis dalam karya risetnya yang berjudul “Sovereignty vs. Sanctity of Mind: The Paradox of Educational Rights for Undocumented Migrant Children in Malaysia through a Maqashid Lens”. Menggunakan pisau analisis Maqashid Syariah, beliau menyoroti paradoks antara kedaulatan politik suatu negara dan hak asasi atas perlindungan akal (hifdz al-aql) bagi anak-anak pekerja migran. Penelitian ini memberikan kritik konstruktif bahwa hak mendapat pendidikan merupakan hal sakral yang melampaui batas-batas kedaulatan territorial, memberikan argumen teologis mendalam untuk mendorong kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan ramah kemanusiaan.

Ketajaman analisis para dosen sejalan dengan eksplorasi lapangan komprehensif yang dilakukan oleh para mahasiswa UAI, khususnya dalam sektor ekonomi syariah dan literasi halal di tingkat akar rumput. Mahasiswa UAI, Dewi Rahmawati, meneliti strategi aplikatif melalui riset “Halal Literacy Education Strategies for Micro-Entrepreneurs: A Qualitative Study of the Local Community in Selangor, Malaysia”. Melalui studi kualitatif ini, Dewi merumuskan model edukasi yang presisi bagi pelaku usaha mikro di Selangor agar memiliki pemahaman halal yang utuh, yang diharapkan mampu memperkuat daya saing UMKM Muslim di tingkat lokal. Masih di lini yang sama, Fina Ifayatul Afifah melakukan observasi mendalam lewat riset “An Analysis of Halal Literacy Among Muslim Street Vendors in the Selangor Region”, yang menguji tingkat pemahaman teknis para pedagang kaki lima sekaligus mengungkap bagaimana identitas keislaman dijadikan modal sosial utama untuk membangun kepercayaan konsumen.

 

Di ranah sosiopedagogi dan penguatan nasionalisme, para mahasiswa UAI turut memberikan sumbangsih pemikiran yang signifikan bagi anak-anak PMI. Erida Febrilian Nita menyumbangkan karya ilmiah berjudul “Language and Cultural Adaptation among Indonesian Migrant Workers’ Children in Early Childhood Education: A Case Study at Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia”, yang memotret dinamika adaptasi bahasa serta hibriditas budaya anak usia dini di antara dialek Melayu lokal dan bahasa Indonesia. Sementara itu, Sinta Roikha Devi berfokus pada penanaman ideologi melalui riset “Internalization of Indonesian Nationalist Values in Early Childhood Children of Migrant Worker Parents: a Case Study at the Indonesian School Kuala Lumpur, Malaysia”. Penelitian Sinta membuktikan bahwa institusi pendidikan Indonesia di luar negeri berperan vital sebagai benteng pertahanan ideologi yang menjaga agar nilai-nilai Pancasila dan jiwa nasionalisme siswa tetap menyala meski jauh dari tanah air.

Aspek ketahanan psikologis dan adaptasi teknologi pembelajaran di area marginal juga tidak luput dari perhatian mahasiswa UAI. Novi Tri Wahyuni mengeksplorasi kondisi kesehatan mental anak-anak marjinal dalam riset “Psychological Resilience of Indonesian Migrant Worker Children in Accessing Early Childhood Education at Guidance Centers in Malaysia”. Novi menemukan bahwa sanggar bimbingan tidak sekadar menjadi tempat transfer ilmu kognitif, melainkan berfungsi sebagai “ruang penyembuhan” (healing space) yang membangun resiliensi psikologis siswa di tengah keterbatasan status hukum. Di sisi lain, Azizka Rohmah menyusun tinjauan sistematis dalam riset “The Adaptability of Asynchronous Learning Systems in Maintaining Teaching Quality Amidst Technological Uncertainty Challenges in Malaysia: A Systematic Literature Review”, yang menawarkan model pembelajaran asinkronus adaptif sebagai solusi atas kendala infrastruktur digital dan sinyal di daerah marjinal.

Keberagaman spektrum riset KKN Internasional UAI semakin lengkap dengan kontribusi Muhammad Sunhaji di bidang sosiologi hukum keluarga. Sunhaji mengangkat kajian bertajuk “Hadhonah Rights (Child Custody) for Working Mothers in the Perspective of Malaysian Islamic Family Law”, yang membedah pertimbangan regulasi Syariah Malaysia terkait penetapan hak asuh anak bagi ibu yang bekerja (career mother). Kajian ini memberikan analisis mendalam mengenai bagaimana hukum Islam memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi wanita profesional, memastikan bahwa peran ekonomi seorang ibu tidak mengurangi hak dasarnya dalam memberikan pengasuhan dan kasih sayang menyeluruh kepada anak.

Rangkaian riset yang kaya ini kian berkesan karena dipadukan dengan aksi pengabdian yang humanis di lokasi KKN. Di samping mengumpulkan data lapangan, delegasi UAI turut memberikan kado perpisahan berupa pengajaran seni tari tradisional Nusantara dan pertunjukan seni mendongeng boneka yang dibawakan oleh Novi Triwahyuni. Keceriaan 170 siswa sanggar yang memenuhi ruangan menjadi bukti nyata keahlian mahasiswa UAI dalam memadukan ketajaman intelektual dan kelembutan empati sosial. Pembina SBSM, Dra. Mimin Mintarsih, mengapresiasi tinggi kontribusi UAI dan mengungkapkan bahwa data riset yang dihimpun selama 20 hari ini akan dijadikan pijakan evaluasi layanan pendidikan sanggar di masa depan, terlebih menyambut Reuni Akbar Alumni KKN Internasional se-Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 di Yogyakarta.