Kabarjatim.id | Probolinggo — Penguatan nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya disampaikan melalui ruang-ruang formal. Nilai kebangsaan perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang hadir dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan dalam kegiatan Penguatan Jaringan Relawan Kebajikan Pancasila kepada Kelompok Masyarakat yang berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Dra. Hj. Anisah Syakur, M.Ag., Anggota DPR RI Komisi XIII, H. Sa’ad Muafi, S.H., serta Dr. Toto Purbiyanto, S.Kom., M.Ti. dari BPIP.
Dra. Hj. Anisah Syakur menegaskan bahwa masyarakat memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai Pancasila agar tidak berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Pancasila harus kita hadirkan dalam kehidupan masyarakat. Bukan hanya menjadi sesuatu yang kita hafalkan, tetapi menjadi nilai yang kita praktikkan melalui gotong royong, kepedulian terhadap sesama, menjaga persatuan dan menghadirkan keadilan sosial,” ujar Anisah Syakur.
Menurut Anisah, relawan memiliki posisi penting karena berada dekat dengan masyarakat. Kedekatan tersebut menjadi modal sosial untuk membangun kesadaran kebangsaan dari lingkungan paling bawah.
“Relawan memiliki peran yang sangat penting karena mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena itu, jaringan relawan harus terus diperkuat agar mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” katanya.
Ia juga mendorong agar gerakan kebajikan Pancasila tidak bersifat eksklusif dan mampu merangkul berbagai kelompok masyarakat.
“Kita ingin nilai-nilai Pancasila tumbuh melalui gerakan yang inklusif. Siapa pun bisa mengambil bagian dalam menjaga persatuan, membangun kepedulian, memperkuat gotong royong dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tegasnya.
Sementara itu, H. Sa’ad Muafi, S.H., menilai penguatan jaringan menjadi bagian penting agar gerakan kebajikan Pancasila mempunyai basis masyarakat yang semakin luas.
“Penguatan jaringan ini penting karena gerakan kebajikan Pancasila tidak bisa berjalan sendiri. Kita membutuhkan jejaring masyarakat yang kuat, saling terhubung dan memiliki kepedulian yang sama terhadap persatuan serta nilai-nilai kebangsaan,” ujar Sa’ad Muafi.
Ia berharap jaringan yang terbentuk tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan mampu berkembang menjadi gerakan sosial yang konsisten.
“Semakin kuat jejaring yang kita bangun, semakin besar pula ruang bagi nilai-nilai Pancasila untuk hadir di tengah masyarakat. Karena itu, relawan harus terus bergerak, membangun komunikasi dan menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat secara nyata,” tambahnya.
Dari BPIP, Dr. Toto Purbiyanto, S.Kom., M.Ti., menekankan bahwa penguatan ideologi Pancasila membutuhkan partisipasi masyarakat. Menurutnya, keberlangsungan nilai Pancasila tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat.
“Pancasila akan tetap hidup ketika nilai-nilainya dipahami, dihayati dan diamalkan oleh masyarakat. Karena itu, partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai Pancasila,” kata Toto.
Ia menjelaskan bahwa jaringan relawan dapat menjadi salah satu kekuatan sosial untuk memperluas pemahaman dan praktik nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.
“Relawan Kebajikan Pancasila memiliki posisi strategis untuk menjadi penggerak di masyarakat. Penguatan jaringan ini diharapkan dapat memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Toto menambahkan, perubahan sosial yang berlangsung cepat membutuhkan pendekatan yang mampu membuat Pancasila tetap relevan dengan kehidupan masyarakat.
“Tantangan kehidupan masyarakat terus berkembang. Karena itu, nilai-nilai Pancasila harus terus diaktualisasikan melalui tindakan nyata, sehingga Pancasila tidak hanya dipahami sebagai ideologi negara, tetapi juga menjadi pedoman dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis,” jelasnya.


