Kabarjatim.id | Pasuruan — Achmad Zulfan Abida resmi melemparkan diri ke gelanggang Konfercab XXIII PMII Pasuruan dengan satu pesan tegas: “PMII tidak boleh jalan di tempat!”.
Dengan visi tajam dan langkah berani, Zulfan menantang arus lama yang membuat organisasi stagnan. Ia datang bukan sekadar untuk memimpin, tetapi untuk mengguncang dan mentransformasi PMII Pasuruan menjadi kekuatan baru di era digital.
Konfercab bertema “Revitalisasi Peran Strategis PMII dalam Mengawal Isu Sosial di Era Digital” yang digelar pada 14–16 November 2025 di AKBID Sakinah Pasuruan, menjadi momentum pembuktian. Zulfan kader yang tumbuh dari bawah, dari Rayon hingga Cabang membawa semangat revolusioner untuk menabrak pola lama dan membangun tatanan baru yang berbasis data, teknologi, dan kesadaran kritis kader.
Di Universitas Merdeka (UNMER) Pasuruan, tempatnya berproses, Zulfan bukan sekadar kader, ia arsitek perubahan. Di tangan dinginnya, PMII UNMER yang dulu lesu berubah jadi mesin gerakan yang hidup. Ia memperkenalkan sistem pendataan kader digital, mengubah data menjadi senjata strategis dalam menentukan arah kebijakan organisasi. Bagi Zulfan, “kaderisasi tanpa data hanyalah jargon.”
Rekam jejaknya membuktikan kampus yang dulu dianggap apolitis kini melahirkan kader PMII yang menempati posisi strategis di BEM, Himpunan, dan lembaga kampus lainnya. Sebuah prestasi yang mencatat sejarah baru hasil dari keberanian melawan kemapanan dan berpikir di luar pakem.
Kini, saat mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PC PMII Pasuruan, Zulfan membawa visi revolusioner. “PC PMII Pasuruan Sebagai Episentrum Perubahan Demi Kemajuan.” ujarnya.
Dengan empat misi tajam yang menjadi garis perjuangan:
1. Revitalisasi sistem kaderisasi PMII Pasuruan berbasis kultural dan progresif.
2. Optimalisasi advokasi untuk menghadapi isu-isu lokal secara kritis dan solutif.
3. Pengembangan kemitraan strategis guna memperkuat posisi PMII dalam pembangunan Pasuruan.
4. Pemanfaatan digitalisasi sebagai tulang punggung pengembangan gerakan di semua lini.
Bagi Zulfan, era digital bukan sekadar peluang tetapi medan pertempuran baru bagi kader pergerakan. “PMII harus berani berubah, atau akan ditinggalkan sejarah,” tegasnya.
Langkahnya mencalonkan diri bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan seruan untuk membangunkan kembali kesadaran kolektif PMII Pasuruan. Dengan keberanian, kecerdasan, dan inovasi, Zulfan siap menjadikan PMII bukan hanya organisasi kader, tetapi gerakan ideologis yang berpikir cepat, bertindak tepat, dan berdampak luas.


