Kabarjatim.id | Malang — Pemerintah Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, kembali mencatat langkah penting dalam kolaborasi dengan dunia akademik. Dalam forum Sinkronisasi Program Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Mitra Universitas Negeri Malang (UM) Tahun 2026, Desa Randupitu menjadi sorotan utama sebagai contoh praktik terbaik dalam pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat.
Kegiatan yang digagas oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM, melalui Pusat Sumber Daya Manusia (PSDW), menghadirkan jajaran kepala desa dan lurah mitra binaan UM. Forum ini bertujuan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam pelaksanaan program penelitian, inovasi sosial, serta pengabdian masyarakat yang berkelanjutan.

Dr. Tri Wahyu Hardaningrum, S.E., M.Pd, selaku Kepala Pusat Sumber Daya Budaya (PSDB) LPPM Universitas Negeri Malang, menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan desa seperti yang dilakukan dengan Randupitu merupakan bentuk nyata dari tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada transformasi sosial.
“Kemitraan ini bukan hanya tentang riset dan pengabdian formal, tapi tentang membangun kesadaran baru di masyarakat desa. Randupitu menunjukkan bahwa ketika ilmu pengetahuan diterapkan sesuai konteks budaya lokal, hasilnya bisa menjadi perubahan yang nyata dan berkelanjutan,” ujar Dr. Tri Wahyu Hardaningrum.
Ia juga menambahkan bahwa Universitas Negeri Malang akan terus memperluas model kerja sama semacam ini agar lebih banyak desa mitra mampu mengembangkan inovasi sosial, ekonomi, dan lingkungan secara mandiri.
“Desa bukan sekadar objek penelitian, melainkan mitra sejajar dalam membangun Indonesia dari akar budaya dan kearifan lokalnya,” pungkasnya.
Diskusi dalam forum tersebut berlangsung dinamis. Para kepala desa mengangkat beragam persoalan yang dihadapi di wilayahnya, mulai dari tata kelola pemerintahan, pemberdayaan ekonomi warga, hingga isu lingkungan. Namun, isu pengelolaan sampah menjadi topik paling mengemuka. Banyak desa mitra UM yang mengakui masih menghadapi kesulitan dalam sistem pengelolaan sampah terpadu, baik dari sisi kesadaran masyarakat maupun infrastruktur.
Menariknya, Desa Randupitu justru tampil sebagai contoh konkret keberhasilan dalam pengelolaan sampah mandiri. Kepala Desa Randupitu, Mochammad Fuad, diminta secara khusus untuk memberikan paparan dan presentasi terkait praktik terbaik yang telah diterapkan di wilayahnya.
“Persoalan sampah bukan hanya soal kebersihan lingkungan, tapi juga soal kemandirian dan keberlanjutan. Di Randupitu, kami membangun kesadaran warga bahwa sampah bisa menjadi sumber daya, bukan sekadar limbah. Kami mengembangkan sistem pemilahan di rumah tangga, pengelolaan organik menjadi kompos, dan bank sampah untuk ekonomi warga,” ujar Mochammad Fuad.

Fuad juga menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah di desanya tak lepas dari dukungan dan kolaborasi dengan pihak kampus.
“Mahasiswa UM yang melaksanakan KKN di Randupitu tidak hanya belajar, tapi juga memberi kontribusi nyata bagi desa. Mereka membantu dalam edukasi warga, penyusunan data, dan inovasi sistem digitalisasi pengelolaan lingkungan. Inilah bentuk sinergi nyata antara desa dan perguruan tinggi,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, Pemerintah Desa Randupitu bersama Universitas Negeri Malang menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk masa kerja sama lima tahun ke depan. MoU ini mencakup bidang penelitian terapan, pemberdayaan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, serta inovasi teknologi tepat guna di tingkat desa.
Kepala LPPM UM menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen Pemerintah Desa Randupitu yang dinilai visioner dan terbuka terhadap kemitraan.
“Randupitu adalah contoh ideal bagi desa mitra universitas. Mereka bukan hanya menerima program, tapi juga menjadi laboratorium sosial bagi pengembangan model desa berdaya,” tuturnya.
Dengan sinergi tersebut, diharapkan ke depan Randupitu tidak hanya menjadi desa percontohan pengelolaan sampah mandiri, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran desa inovatif yang dapat direplikasi di wilayah lain. Kolaborasi ini juga menjadi bukti bahwa ketika perguruan tinggi dan pemerintah desa berjalan seiring, riset dan pengabdian masyarakat dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan di akar rumput.


