MALANG, KABARJATIM.ID – Wisuda Periode 2026 Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang mencetak sejarah membanggakan. Dari 896 lulusan yang diwisuda pada Sabtu (10/10/2026) di salah satu hotel di Kota Malang, hanya tiga wisudawan yang berhasil meraih prestasi puncak yakni Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00. Ketiganya adalah srikandi-srikandi terbaik Unidha.

Salah satu dari tiga srikandi ber-IPK sempurna tersebut adalah Dwi Purwaningtyas, yang dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Magister Ilmu Hukum.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kaum perempuan mampu bersaing dan unggul di jenjang pendidikan tertinggi. Dominasi IPK 4,00 oleh tiga srikandi ini menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa Unidha bahwa ketekunan dan konsistensi akan berbuah manis.

Dwi Purwaningtyas sendiri bukan sosok baru di dunia hukum. Ia adalah Advokat yang berprofesi sebagai Kuasa Hukum di bidang perpajakan dan Pimpinan perusahaan Smartindo Alonajaya yang bergerak di jasa manajemen perkantoran dan legal corporate di Pasuruan. Ia juga tercatat sebagai alumni S1 Hukum Unidha yang kembali melanjutkan studi Magister di almamaternya.

kabarjatim

IPK 4,00 yang diraih Dwi semakin istimewa karena diraih di tengah kesibukannya yang luar biasa. Ia harus membagi peran sebagai advokat yang aktif bersidang, pimpinan perusahaan, sekaligus menjadi single mother bagi dua putranya.

Dua putra kebanggaannya adalah Fortunate Dwinanda Sudiarse, putra pertama yang kini bekerja sambil kuliah, dan Narendra Bayuaji, putra kedua yang masih duduk di bangku SMU kelas 11.

“Bagi saya, menjadi ibu adalah kekuatan, bukan hambatan. Justru karena saya memiliki dua putra, saya harus memberi contoh bahwa belajar itu tidak mengenal usia dan keadaan,” tutur Dwi usai prosesi wisuda.

Perjuangannya untuk mempertahankan IPK sempurna diakui tidak mudah. Ia harus memanfaatkan waktu malam hari untuk belajar setelah menyelesaikan pekerjaan kantor dan urusan keluarga. Kedisiplinan tinggi dan komitmen untuk tidak menunda tugas menjadi kunci suksesnya.

Bagi Dwi, predikat cumlaude sempurna bukanlah sekadar deretan angka di transkrip nilai, melainkan bentuk pengabdian dan tanggung jawab untuk memberikan kontribusi yang lebih besar.

Ia menegaskan, keputusannya kembali kuliah adalah untuk memperdalam ilmu hukum agar lebih matang dalam menjalankan profesi sebagai advokat. Selama menempuh studi Magister, ia juga produktif menulis sejumlah artikel opini dan naskah akademik bersama tim Magister Ilmu Hukum Unidha, seperti “Satu Subjek Pajak, Tiga Pemungut Pajak” dan “Ketika Hukum Adat, Agama, dan Negara Bertemu di Lautan Budaya”.

“Prestasi akademik adalah kontribusi, bukan sekadar nilai. Ilmu hukum harus bisa membantu kita memahami persoalan dengan lebih jernih dan menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi orang lain,” tegasnya.

Momen wisuda tersebut semakin haru dengan kehadiran kedua putra tercintanya, sahabat, dan rekan seprofesi yang memberikan dukungan penuh.

Di akhir, Dwi menyampaikan pesan inspiratif yang menjadi prinsip hidup dan profesinya:

“Jadilah SOLUSI di setiap INOVASI dalam profesi kalian. Semoga kita sukses bersama,” tandasnya. ***