MALANG — Tradisi kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi ternyata dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat. Di Desa Banjarsari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, keterampilan membuat tape berkembang menjadi kegiatan usaha yang melibatkan ratusan pedagang.

 

Produk berbahan dasar singkong dan ketan hitam tersebut menjadi komoditas yang diperdagangkan masyarakat setempat. Perkembangannya semakin terorganisasi melalui Klaster Harapan Sejahtera yang menaungi 187 pedagang tape.

 

kabarjatim

Kasrodin (40), ketua kelompok sekaligus pemilik Tape Manis 87, mengatakan tradisi produksi tape telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa.

 

“Tape di desa saya ini sudah dari nenek moyang, turun-temurun. Jadi, usahanya lebih mudah dipelajari,” kata Kasrodin.

 

Ia mulai mengembangkan Tape Manis 87 sejak 2012. Berbekal keterampilan yang dimiliki, Kasrodin terus mengembangkan produk hingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

 

Saat ini, produknya telah dipasarkan ke sejumlah supermarket. Selain melayani pesanan oleh-oleh ke Yogyakarta, Tape Manis 87 juga memiliki pengiriman ke Hong Kong dua kali dalam sepekan.

 

Perkembangan usaha tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi kelompok yang cukup besar. Kasrodin memperkirakan seluruh anggota klaster mampu memproduksi sekitar 20 ton tape setiap hari dengan perputaran uang sekitar Rp200 juta.

 

Para pedagang memasarkan produknya melalui sejumlah jalur, mulai dari penjualan langsung kepada konsumen, tengkulak, hingga pedagang sayur. Kerja sama kelompok turut membantu anggota bertukar informasi dan memperluas jaringan pemasaran.

 

BRI Region 13 Malang mendukung pengembangan kelompok tersebut melalui program KlasterkuHidupku. Pendampingan diberikan dalam bentuk dukungan sarana produksi, peningkatan keterampilan, penguatan kapasitas, dan perluasan jejaring usaha.

 

Regional Micro Business Head BRI Region 13 Malang, Tito Witarnawan, menyampaikan bahwa pengembangan UMKM berbasis potensi lokal membutuhkan dukungan yang terintegrasi.

 

“Melalui KlasterkuHidupku, BRI berupaya memberikan dukungan yang lebih menyeluruh kepada kelompok usaha. Tidak hanya melalui akses permodalan, tetapi juga pendampingan, peningkatan kapasitas, penguatan jaringan, serta dukungan sarana yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha,” ujarnya.

 

Menurut Tito, pengelolaan potensi lokal secara bersama dapat menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas. Karena itu, BRI berharap kelompok tersebut mampu terus meningkatkan kualitas pengelolaan usaha dan memperluas pasar.

 

“Kami berharap Klaster Harapan Sejahtera dapat terus berkembang dan menjadi contoh bahwa potensi lokal, apabila dikelola bersama serta didukung pendampingan yang tepat, dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Kisah Tape Banjarsari ini juga diharapkan dapat menginspirasi klaster UMKM lainnya untuk terus berkembang dan naik kelas,” tambah Tito.

 

Melalui program pemberdayaan tersebut, BRI berharap semakin banyak potensi usaha lokal yang mampu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi produktif dan berkelanjutan.